’’Ketika satu keluarga ada empat orang berarti nominal garis kemiskinan di kali empat. Jika di bawah garis kemiskinan termasuk rumah tangga miskin.’’
FIRMAN BASTIAN, Kepala BPS Bojonegoro
BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Penduduk miskin di Bojonegoro masih mencapai 153 ribu jiwa. Penduduk tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar setiap bulannya. Mereka terpaksa mengurangi pengeluaran, terlebih garis kemiskinan meningkat akibat inflasi.
Berdasar Data dan Informasi Kemiskinan Kabupaten dan Kota di Indonesia 2022, jumlah penduduk miskin di Bojonegoro sebanyak 153,40 ribu penduduk. Sedangkan garis kemiskinan mencapai Rp 403.403 per bulan. Garis kemiskinan meningkat dibanding tahun lalu, hanya Rp 380.653 per bulan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro Firman Bastian mengatakan, pemenuhan penduduk miskin masih kurang. Terdapat beberapa kebutuhan tidak dipenuhi. Mulai asupan makanan, biaya pendidikan, hingga kesehatan. “Garis kemiskinan dihitung dari pengeluaran untuk makanan dan nonmakanan,” ungkapnya.
Kenaikan garis kemiskinan mengalami kenaikan dipengaruhi inflasi. Kenaikan harga barang yang meningkat dibanding 2021 lalu. Sehingga pengeluaran setiap penduduk per bulan meningkat tahun ini.
Menurut Firman, garis kemiskinan menjadi kebutuhan dasar minimal. Sehingga penduduk yang pengeluaran per bulannya di bawah garis kemiskinan termasuk penduduak miskin. Garis kemiskinan dihitung per penduduk, baik bapak, ibu, dan anak, termasuk bayi.
“Ketika satu keluarga ada empat orang berarti nominal garis kemiskinan di kali empat. Jika di bawah garis kemiskinan termasuk rumah tangga miskin,” ungkapnya.
Firman mengaku seluruh Jawa Timur tingkat kemiskinan menurun. Ketika pandemi kemiskinan meningkat, namun saat ini menurun. Terlebih mulai pemulihan ekonomi pascapandemi. “Penurunan kemiskinan di setiap wilayah berbeda-beda,” bebernya.
Terkait karakteristik penduduk miskin di Bojonegoro, pihaknya masih menganalisis penduduk miskin. Tentu untuk melihat fenomena terjadi dan penduduk miskin didominasi dari pekerjaan di sektor mana.
Rektor STAI At-Tanwir Bojonegoro Moch. Bakhtiar mengatakan, untuk menurunkan angka kemiskinan harus mengoptimalkan peran pendamping desa. Tentu, mengolaborasikan antara pendamping dengan pemkab.
Pendamping bisa mengidentifikasi potensi di masing-masing desa. “Pengembangan di masing-masing wilayah menyasar pada karifan lokal. Sehingga mudah memprioritaskan potensi yang ada,” jelasnya. (irv/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto