Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) membantah produktivitas padi hanya 5 ton per hekter per tahun. Sebab, data BPS hanya sampling di beberapa lokasi, bukan secara keseluruhan.
Kabid Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan DKPP Bojonegoro Imam Nurhamid mengklaim produkativitas padi per hekater di atas 5 ton. Data dari BPS hanya bersumber dari sampling di beberapa titik produktivitasnya rendah.
“Seperti di Kecamatan Ngasem yang tidak panen sepanjang tahun, karena ketersediaan air kurang,” bantahnya kemarin (24/11).
Imam mengaku produksi padi per tahun Bojonegoro selalu masuk urutan tiga tertinggi. Tahun lalu produksi padi mencapai 824.723 ton per tahun. Begitu juga luas tanaman selalu di masuk urutan atas di Jatim.
Berdasar Indikator Pertanian Jawa Timur 2021, produksi padi kering giling mencapai 674 ribu ton per tahun atau ketiga tertinggi di Jatim. Di bawah Kabupaten Ngawi dan Lamongan di urutan kedua dan pertama.
Sedangkan, luas panen tertinggi kedua di Jatim dengan 134.609,22 hektare. Di bawah Kabupaten Lamongan di posisi pertama, dan di atas Kabupaten Ngawi di urutan ketiga.
Namun, dari segi produktivitas per hektar Bojonegoro hanya menduduki posisi ke 34 di Jatim dengan 5,01 ton per hektare. Hanya di atas Kabupaten Bangkalan 4,64 ton per hektare, Pacitan 4,66 ton per haktere, Jember 4,96 ton per hakter, dan Situbondo 4,97 ton per hektare.
Berbeda jauh dengan Kabupaten Ngawi produktivitas mencapai 6,11 ton per hektar, maupun Kabupaten Lamongan sebesar 5,73 ton per hektar.
Sementara itu, berdasar BKPP Bojonegoro pada 2021 produksi padi kering giling 824.723 ton per tahun, dengan luas tanam 152.872 hektare. Jika dibuat rerata produksi per haktere sebesar 5,39 ton perhakter. (irv/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto