Informasi digali Temmy Setiawan dari Ibu Mahsunah (Ketua Muslimat PCNU Cepu 1979) tempo dulu, Masjid Cepu merupakan tanah wakaf Mbah Kiai Yusuf, dilimpahkan ke saudaranya yaitu Kiai Muso.
Selanjutnya, Kiai Muso sebagai nadir yang menyerahkan tanah wakaf kepada Kiai Usman selaku pemilik Pondok Pesantren (Ponpes) Assalam Cepu sekaligus Pendiri Cabang NU kali pertama. Pemberian wakaf dilaksanakan pada 1919 dibuatkan surat penyerahan wakaf diterima Kiai Muso. ‘’Data-datanya disimpan oleh Pak Kiai Taufiq, putra Mbah Muso," bebernya.
Kiai Usman bersama para sahabat di antara Kiai Muso, Kiai Yusuf, Kiai Idris, Kiai Haji Mas Hadi, dan teman-teman seangkatan bahu membahu membangun Masjid Jami’ Cepu. Hal ini menjadi catatan sejarah Masjid Jami’ Cepu sangat diingat oleh keluarga Ponpes Assalam.
‘’Karena selesai dan peresmian Masjid Jami’ Cepu bertepatan kelahiran putra pertama KH Usman, yaitu Mbah KH Syadili Usman pada tahun 1920," terangnya.
Bangunan berdiri di tanah seluas 1.276 meter persegi tersebut dimanfaatkan Kiai Usman untuk pengajaran dan pendidikan agama pada zaman Belanda. Saat itu pendidikan Islam sangat dipengaruhi faktor politik ditentukan kebijakan penguasa.
Dibutuhkan kehati-hatian, pada zaman Kiai Usman dan para sahabatnya. Belanda membuat berbagai kebijakan intinya menghambat perkembangan dan kemajuan pendidikan Islam. ‘’Kolonial Belanda memperlakukan umat Islam sejajar dengan kaum pribumi. Sekolah untuk mereka terbatas hanya sekolah desa dan Vervlog," tuturnya. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto