Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

PP Blora Tolak Rencana Penamaan Jalan Pramoedya, Minta Ditunda dan Dikaji Ulang

Y
Penulis: Yuan Edo Ramadhana❯
CALON JALAN PRAM: Ruas jalan perbatasan Kelurahan Mlangsen dan Beran turut Kecamatan Blora Kota direncanakan akan diberi nama Jalan Pramoedya Ananta Toer. (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BOJONEGORO)
CALON JALAN PRAM: Ruas jalan perbatasan Kelurahan Mlangsen dan Beran turut Kecamatan Blora Kota direncanakan akan diberi nama Jalan Pramoedya Ananta Toer. (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BOJONEGORO)

 


Advertisement

BLORA, Radar Bojonegoro - Gebyar peringatan Seabad Pramoedya Ananta Toer akan diselenggarakan 6-8 Februari. Namun, Pemuda Pancasila (PP) Blora justru menerbitkan surat imbauan kepada Bupati Blora yang mana pada prinsipnya menolak rencana penamaan jalan Pramoedya Ananta Toer.

Pihak PP Blora meminta agar penamaan Jalan Pramoedya ditunda dulu dan dikaji ulang. Sebab, pihak PP Blora menilai Pram dicap sebagai tokoh radikal kiri semasa hidupnya. Surat imbauan dari MPC PP Blora beredar di grup WhatsApp warga Blora pada Selasa malam (4/2).

’’Kami ormas PP Blora yang berideologi Pancasila dan UUD 45 menolak adanya rencana penamaan Jalan di Wilayah Kabupaten Blora dengan Nama Tokoh Radikal Kiri,” tulis Ketua MPC PP Blora Munaji.

Advertisement

Terpisah, netizen Blora geram dengan surat imbauan tersebut. Hingga berita ini ditulis kemarin (5/2), netizen makin geram ketika pamflet perayaan Seabad Pram yang terbaru tak mencantumkan agenda peresmian jalan seperti yang tertera pada pamflet awal.

Salah satu netizen berdomisili Blora, Eko Santoso pun heran dan geram. Terlebih, sosok Pram merupakan tokoh yang sangat inspiratif bagi bangsa Indonesia. ’’Kan aneh kalau ditolak. Pram itu putra daerah, putra bangsa. Karya Pram itu abadi. Apalagi, Pram sendiri pernah menerima berbagai macam penghargaan internasional. Bahkan, Pram masuk nominasi nobel beberapa kali,” ujarnya.

Komentar netizen lainnya juga mempertanyakan apa maksud dari surat tersebut. ’’Kok bisa seorang Pram dicap sebagai tokoh radikal kiri? Apa tidak pernah belajar sejarah?,” ujar salah satu netizen di grup Whatsapp warga Blora, Candra.

Advertisement

Sebelumnya diberitakan, rencana peresmian nama Jalan Pramoedya Ananta Toer di Blora semula hendak diresmikan adalah Jalan Sumbawa itu digeser ke jalan baru perbatasan Kelurahan Mlangsen dan Beran.

Karena pihak keluarga Pram khawatir apabila memgubah nama Jalan Sumbawa yang mana merupakan lokasi rumah semasa kecil Pram akan merepotkan warga dalam mengurus administrasi kependudukan.

Adapun pengusul Jalan Sumbawa menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer ialah Soesilo Toer yang merupakan adik Pramoedya Ananta Toer. Menurut Soes, orang tuanya, Mas Toer sudah menghibahkan beberapa tanah untuk kepentingan masyarakat. Di antaranya tanah yang kini jadi sekolah hingga jalan.

’’Saya tidak peduli. Tetap saya bilang Jalan Pramoedya Ananta Toer adalah eks Jalan Sumbawa. Kalau mereka menuntut, apa tanah yang ke selatan dulu buat lewat kendaraan apa harus saya tarik kembali. Gardu apa perlu saya tarik lagi. Apa SD ini harus saya minta. SMP 5 ditarik kembali. Negara tidak pernah mau menghargai,” ungkapnya. (hul/bgs)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Keluar Bui, Ketum Pemuda Pancasila Blora Beri Kartu Merah Kejari

Keluar Bui, Ketum Pemuda Pancasila Blora Beri Kartu Merah Kejari

Baru saja keluar dari balik jeruji besi, Ketua Umum Pemuda Pancasila (PP) Blora Munaji langsung melontarkan kritik keras kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Blora.

Dua Warga Jerman Sambangi Soesilo Toer, Napak Tilas Penggalangan Dana Masa Lalu

Dua Warga Jerman Sambangi Soesilo Toer, Napak Tilas Penggalangan Dana Masa Lalu

Dua warga kebangsaan Jerman menyambangi Blora, dengan menemui langsung Soesilo Toer. Mereka yakni pasangan suami istri, Joann Liewald dan Claudia Liewald. Mereka mengakui memiliki kedekatan emosional dengan keluarga

The Longest Wait Tuai Pro-Kontra, Netizen Pertanyakan Hilangnya Sosok Shin Tae-yong

The Longest Wait Tuai Pro-Kontra, Netizen Pertanyakan Hilangnya Sosok Shin Tae-yong

Kehadiran Patrick Kluivert dalam film dokumenter The Longest Wait justru memunculkan perdebatan di kalangan pencinta sepak bola Indonesia. Sejumlah netizen menilai ada bagian penting dari perjalanan Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer