Rabu, 08 Dec 2021
Radar Bojonegoro
Home / Tuban
icon featured
Tuban

Kesenian Daerah Jangan Direndahkan

25 November 2021, 13: 57: 09 WIB | editor : Mohammad Yusuf Purwanto

Kesenian Daerah Jangan Direndahkan

Aulina Umazah, dosen kesenian Universitas Adibuana Surabaya (Istimewa)

Share this      

KRITIK juga dilontarkan dosen kesenian Universitas Adibuana Surabaya Aulina Umazah. Dia  mengatakan, seni merupakan bagian dari kebudayaan. Pengertian kebudayaan, terang Aulina, adalah pengalaman yang dihidupi dan tercipta dalam waktu yang sangat panjang. Menurut dia, thak-thakan memenuhi unsur untuk bisa disebut sebagai kesenian.
Akademisi asal Desa Kesamben, Kecamatan Plumpang ini mengemukakan, thak-thakan hadir dan berkembang menjadi sebuah kesenian melalui proses yang panjang. Terutama harus memenuhi unsur pengalaman, teks, praktik, dan makna yang dialami. Dan, selama ini, thak-thakan sebagai salah satu unsur kesenian dan produk kebudayaan sudah dipegang teguh oleh sebagian masyarakat.
‘’Kabid Kebudayaan yang memiliki kendali dan otoritas tinggi dalam pengatur kebijakan terkait kebudayaan seharusnya bisa menjadi payung bagi para pelaku kesenian,’’ ucap dia.
Lebih lanjut Aulina menjelaskan, kesenian sifatnya universal yang bisa dinikmati siapa saja. Sebuah pertunjukan seni yang menampilkan estetika dan hiburan tidak bisa dinilai kastanya. Seperti kesenian thak-thakan, jangan dianggap sebagai kesenian rakyat jelata, sehingga masyarakat kelas atas tidak cocok menikmatinya. ‘’Pandangan kasta terhadap kesenian akan mengaburkan makna dari kesenian itu sendiri,’’ tutur pendiri Gerakan Anak Desa Bisa itu. Kritik yang disampaikan kabid kebudayaan Sumardi, kata Aulia,  termasuk mengastakan sebuah karya seni.
Sebelum melontarkan kritik, lanjut dia, idealnya seorang kabid kebudayaan memahami konsep dasar seni dan budaya. ‘’Jika memberikan kritik pada kebudayaan hanya didasari atas perspektif personel, maka akan menghasilkan kritik yang tumpang tindih, sebab kebudayaan tercipta secara komunal,’’ tegas lulusan pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Sempitnya pengetahuan dalam menyampaikan kritik, kata Aulia, justru hanya akan memperkeruh upaya ratusan tahun untuk menciptakan dan melestarikan sebuah ekspresi kesenian.
Dia menambahkan, masyarakat memang harus melek kritik dan bijak dalam memandang ruang kritik. Namun, sebagai seorang pejabat daerah seharusnya tidak semestinya merendahkan kesenian dan kebudayaan masyarakat di daerahnya. ‘’Memburu standar estetika secara universal sangat sulit dan membutuhkan kedalaman praktik yang panjang,’’ tutur dia.
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kabid Kebudayaan Disparbudpora Tuban Sumardi menyampaikan permintaan maaf atas pernyataan kontroversialnya. Dia menyampaikan, persoalan thak-thakan harus didiskusikan lebih lanjut secara jujur karena ada kesalahpahaman. ''Kapan ada waktu akan saya jelaskan, sementara ini masih menyelesaikan rangkaian kegiatan HJT,’’ kata dia.

(bj/yud/ds/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia