Rabu, 08 Dec 2021
Radar Bojonegoro
Home / Tuban
icon featured
Tuban

Pangkalan Jasa Angkut, Wajah Lain Kawasan Pecinan

15 Oktober 2021, 09: 52: 56 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Pangkalan Jasa Angkut, Wajah Lain Kawasan Pecinan

MENUNGGU KONSUMEN: Mobil jasa angkut yang mangkal di salah satu ruas Jalan Panglima Sudirman, persisnya di kawasan Sumur Srumbung. (YUSAB ALFA ZIQIN/RDRTBN)

Share this      

Radar Tuban – Di salah satu ruas Jalan Panglima Sudirman, persisnya dari perempatan Sumur Srumbung hingga barat laut alun-alun, mulai pagi hingga sore berderet mobil pikap.

Mereka bukan mobil yang parkir, namun mangkal untuk menyediakan jasa angkut. Keberadaan mobil angkutan tersebut menjadi kekhasan perwajahan kota sejak puluhan tahun di kawasan Pecinan.

Umar, salah satu penyedia jasa mengatakan, pekerjaan tersebut sudah dilakoni sejak puluhan tahun lalu. ‘’Sekitar tahun 80-an sudah ada,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban kemarin (13/10).

Baca juga: SIG Bekali Sekuriti Dalam Tanggap Bencana dan Kebakaran

Dia mengenang, penyedia jasa angkut di situ awalnya hanya memuat barang yang dibeli masyarakat di pertokoan sekitar. Kala itu, seingatnya pertokoan yang sebagian besar kepunyaan etnis Tionghoa berbagai barang, seperti bahan bangunan, plastik, kertas, dan kardus.

‘’Pertokoan grosir istilahnya,’’ tuturnya. Para pembeli yang tidak membawa kendaraan pengangkut barang inilah yang memanfaatkan jasa mobil angkut. Umar menilai hal itu sangat positif.

‘’Pedagang Tionghoa dan pribumi bisa saling menguntungkan,’’ ujarnya. Pria kelahiran 1961 ini menuturkan, pada era 80-an penyedia jasa angkut belum terlalu banyak dan baru ramai sepuluh tahun kemudian.

Umar mengungkapkan, selama krisis moneter, penyedia jasa angkutan sempat menghilang dan kemudian berangsur-angsur bangkit. Sekarang ini, mobil penyedia jasa angkutan sekitar 20 unit.

Itu pun tidak semua berangkat setiap hari. ‘’Kalau sregep berangkat semua, jalan bisa penuh,’’ ujarnya. Hadi, penyedia jasa angkut lainnya menceritakan, sehari terkadang dirinya menerima hanya satu kali order.

‘’Tarif di seputaran kota Rp 50 ribu. Berarti sehari hanya dapat segitu,’’ bebernya. Hadi mengungkapkan, akhir-akhir ini, pengguna jasa terbanyak dari pembeli keramik dan bahan bangunan lain.

Mereka adalah orang perumahan. Selebihnya menyewa untuk boyongan. Suatu kali, dia pernah diminta untuk mengangkut orang sakit ke rumah sakit. Dia pun berseloroh, ‘’Kalau muat orang istilahnya menumpang, bukan mengangkut,’’ katanya. (sab)

(bj/ds/bet/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia