Minggu, 23 Jan 2022
Radar Bojonegoro
Home / Lamongan
icon featured
Lamongan

Empat Kasus Kekerasan Anak Belum Terselesaikan

04 April 2018, 07: 00: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

Empat Kasus Kekerasan Anak Belum Terselesaikan

ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

KOTA – Kasus kekerasan anak yang terungkap selama tribulan tahun ini belum ada titik terang penyelesaiannya. Termasuk kasus hilangnya seorang siswa SMP yang masih usia anak. Menurut Kepala Bidang Per lin dungan Perempuan dan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Lamongan, Zumaroh, empat kasus kekerasan anak berupa pencabulan sepanjang tribulan pertama tahun ini belum menemukan titik terang. Termasuk kasus anak hilang juga belum ditemukan.

‘’Kami hanya bisa memberikan dukungan dalam bentuk pembangunan psikologi anak. Selebihnya menjadi kewenangan pihak terkait,’’ ujarnya selasa (3/4). Seperti diberitakan, empat kasus kekerasan anak selama tiga bulan pertama tahun ini, antara lain kasus kekerasan seksual sodomi, pelaku dan korbannnya anak di bawah umur. Kemudian pencabulan terhadap anakanak yang dilakukan orang dewasa tetangganya sebanyak dua kasus.

Dan pencabulan terhadap anak-anak yang diduga dilakukan oleh guru. Selain itu juga kasus hilangnya seorang siswi SMP yang diduga dibawa lari teman facebook-nya. Zumaroh mengatakan, kewenangan nya hanya memberikan pendampingan secara psikologis. Baik korban maupun pelaku yang masih di bawah umur.

Baca juga: Bidik Objek Wisata Baru

Termasuk memberikan pendampingan agar bisa tetap melanjutkan pendidikannya. “Karena masih usia sekolah dan sangat rawan depresi,” ungkapnya. Dari empat kasus pencabulan sepanjang tribulan pertama tersebut, ungkap dia, belum ditemukan titik terang. Bahkan kasus anak hilang belum juga ditemukan. Pihaknya hanya memberikan dukungan dalam bentuk pembangunan psikologi anak, selebihnya menjadi kewenangan pihak terkait.

Menurut dia, semakin lama proses penyelesaian kasus tersebut membuat korban semakin sulit dalam melakukan pemulihan. Sebab korban kekerasan seksual cenderung mengalami trauma lebih berat. Apalagi, empat kasus kekerasan seksual tersebut rata-rata pelakunya orang terkedat.

“Mereka terbiasa bertemu dan beraktivitas bersama,” jelasnya. Menurut Zumaroh, upaya pemerintah dalam mendampingi korban ataupun diduga korban sebenarnya sudah total. Meski tidak penuh, karena sampai sekarang belum ada kegiatan pendidikan/ sosialisasi khusus untuk memberikan wawasan kepada masyarakat.

Terutama untuk memberikan informasi bahwa kejahatan itu bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Namun dalam pelaksanaannya masih mengandalkan pihak sekolah dan keluarga. “Jadi dinas memang belum terjun langsung untuk memberikan sosialisasi,” lanjutnya.

Rencananya, soasialisasi ini akan dilakukan pada triwulan ketiga dan empat dengan fokus pemahaman perkembangan teknologi dan narkotika. Sehingga harapannya, dalam pelaksanaan sosialisasi seluruh pesan untuk pencegahan kekerasan anak bisa tersampaikan.

Apalagi, kasus terbaru yang dilakukan oleh orang tua kandungnya terkait penyetruman. Trauma korban cukup mendalam, sehingga pihaknya mulai melakukan pendekatan persuasif agar anak bersedia untuk melanjutkan pendidikan. “Paling penting pendidikan, karena masih usia sekolah,” imbuhnya.

(bj/rka/feb/faa/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia