Rabu, 08 Dec 2021
Radar Bojonegoro
Home / Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Menyusutnya Air Embung Sebabkan Pertanian Tak Maksimal

Tahun Depan Prioritaskan Penataan Air

18 Oktober 2021, 11: 18: 02 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Menyusutnya Air Embung Sebabkan Pertanian Tak Maksimal

BUTUH SOLUSI JANGKA PANJANG: Embung di Kecamatan Dander ini setiap musim kemarau mengering, dampaknya sektor pertanian tak maksimal. Butuh solusi jangka panjang untuk mengantisipasi bencana musiman, yaitu banjir saat musim hujan, dan kekeringan saat musim (LUKMAN HAKIM/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro – Lahan Solo Valley rerata di bangun sebagai embung untuk menopang kebutuhan air masyarakat saat musim kemarau. Namun, volume air mulai menyusut, salah satunya di antara Desa Ngumpakdalem dengan Sumodikaran, Kecamatan Dander.

Pemkab Bojonegoro berjanji tahun depan program prioritasnya penataan air, karena menjadi kebutuhan primer untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Menurut Samin, petani di Kecamatan Dander mengatakan, sawahnya tidak jauh dari area embung, tapi saat ini tidak melakukan aktivitas pertanian, sebab mengandalkan suplai air dari embung dan aliran air kali yang bersumber dari Grogolan.

Baca juga: Menko Airlangga: Bantuan Tunai PKL dan Warung di Provinsi NTB

Kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk penanaman padi. “Airnya habis, tidak cukup untuk areal pertanian,” ujar katanya kemarin (16/10).

Petani usia 58 tahun itu menuturkan, selain suplai air yang sulit, serangan hama tikus juga menjadi momok tersendiri, oleh karena itu jika petani tidak menanam secara bersamaan pasti merugi.

Sebab tikus akan memakan hasil pertanian yang akan dipanen. “Lahan sebelah sawah saya ditanamai kancang sendirian, habis dimakan tikus,” ungkapnya. Samin menjelaskan, embung yang menjadi penopang pertanian beberapa desa tersebut berada di lahan solo valley dengan luasan sekitar 25 hektare.

Jika ada wacana pembangunan jalan tol perlu memperhatikan lahan pertanian di sekitarnya. “Harapannya petani pembangunan tol berdampak pada kesulitan petani,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Sumodikaran, Kecamatan Dander Khotimah menjelaskan, embung di lahan solo valley menjadi salah satu tumpuan pertanian di desanya. Belum ada kepengurusan yang mengatur suplai air irigasi untuk pertanian.

“Sehingga para petani dari daerah Desa Mojoranu, Sendangrejo, Ngumpakdalem bisa mengambil tanpa ada batasan,” terangnya. Menurut Khotimah, kondisi itu berakibat air cepat menyusut, ditambah musim kemarau panjang.

Sebab, solo valley sebagai penampung air hujan dan pengen dali banjir. Jika diperkirakan embung dapat menampung air puluhan ribu meter kubik. “Memang sejak pembangunan awal dari dinas dimaksudkan untuk mengatasi masalah tersebut,” tuturnya.

Sementara itu, Camat Dander Hariyanto dikonfirmasi terpisah mengatakan, lahan solo valley di Kecamatan Dander saat ini rerata menjadi embung, dan sebagian dikelola petani. Petani di sekitar memenggantungkan areal sawah dari embung dan juga air dari kali Grogolan.

Bupati Bojonegoro Anna Mu’a wanah menuturkan, pemkab tahun depan akan fokus penataan air, setelah pembangunan infrastruktur jalan mulai tuntas. ‘’Kami tahun depan fokus penataan air,’’ katanya terpisah.

Beberapa rencana penataan air itu salah satunya membangun embung di perbatasan antara Kecamatan Kepohbaru dengan Kecamatan Kedungadem, karena daerah itu menjadi langganan kekeringan.

Namun, rencana itu harus didukung warga, karena untuk pembebasan lahan terkadang terkendala harga yang tak terjangku dari tim appraisal. ‘’Rencana itu sudah lama, tapi beberapa kali terkendala pembebasan lahan, padahal itu kembalinya nanti juga untuk masyarakat,’’ pungkasnya. (luk)

(bj/msu/bet/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia