Jumat, 03 Dec 2021
Radar Bojonegoro
Home / Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Meski Mahal, Petani Nekat Beli Pupuk Nonsubsidi

Kesulitan Beli Pupuk Subsidi Pakai Kartu Tani

03 November 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Meski Mahal, Petani Nekat Beli Pupuk Nonsubsidi

Share this      

Radar Bojonegoro - Hujan mulai turun, sebagian petani sudah menanam padi di sawahnya. Berkembangnya tanaman padi itu harus didorong dengan pupuk. Namun, saat ini petani mulai kesulitan pupuk bersubsidi. Sebagian beralih ke pupuk nonsubsidi.

Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah meminta petani hati-hati saat membeli pupuk nonsubsidi. Sebab, rawan beredar pupuk palsu. Selain itu, petani juga harus cerdik jika ada pihak menawarkan kemitraan, karena bisa merugikan petani.

‘’Petani harus hatihati, karena rawan (beredar pupuk palsu),’’ kata Bupati Anna Mu’awanah Minggu malam (1/11). Dia menjelaskan, persoalan pupuk bersubsidi selalu terjadi saat memasuki musim tanam, termasuk saat ini adanya peralihan mekanisme pembelian pupuk subsidi, dari pembelian manual diganti dengan kartu tani.

Baca juga: Okupansi Hotel Prihatin, Resto Mulai Normal

Implementasi kartu tani terkesan dipaksakan, karena sampai saat ini aktivasi kartu itu belum terelisasi. Termasuk kesiapan SDM agen dalam fasilitas emplementasinya. ‘’Kami berkomitmen akan fokus program tentang pertanian,’’ tandasnya.

Dia menjelaskan, mayoritas warga Bojonegoro berprofesi sebagai petani, air selama ini menjadi kebutuhan dasar petani, menjadi titik fokus. Akses saluran air dan waduk akan terus dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. ‘’Kebutuhan pupuk pasti setelah ini meningkat, kami akan pantau pupuk subsidi lapangan,’’ tandasnya.

Persoalan pupuk subsidi, menurut Bupati, tidak ada habisnya. Hampir setiap tahun bergejolak. Kepala Dinas Pertanian Helmy Elisabeth mengatakan, banyaknya permintaan pupuk nonsubsidi, bisa jadi karena alokasi pupuk bersubsisi di daerah tersebut tidak bisa mencukupi.

Realiasi alokasi dari pusat tidak bisa memenuhi jumlah petani di rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). “Petani akhirnya membeli pupuk nonsubsidi,” ungkapnya. Helmy menjelaskan belum ada perubahan kuota pupuk bersubsidi hingga saat ini. Belum ada realokasi dan masih seusai dengan jumlah alokasi sebelumnya. Sedangkan untuk pembelian pupuk bersubsidi, menurut Helmy, petani masih bisa membeli secara manual. Sebab, kartu tani belum digunakan sepenuhnya.

Sementara itu, permintaan pupuk nonsubsidi cukup tinggi. Pedagang tidak mampu memenuhi permintaan pupuk petani. Sebab, alokasi pupuk subsidi tidak bisa mencukupi permintaan. Denny, salah satu pedagang pupuk nonsubsidi di Kecamatan Ngasem mengatakan, peminat pupuk nonsubsidi sangat tinggi. Sehari minimal dua karung pupuk terjual.

Bahkan, selama tiga minggu hampir 20 ton pupuk nonsubsidi terjual. “Sekarang stok tinggal empat hingga lima ton. Tiga minggu yang lalu ambil 24 ton,” ungkapnya. Denny menjelaskan, harga pupuk nonsubsidi lebih mahal dua hingga tiga kali lipat dibanding pupuk bersubsidi.

Misalnya, pupuk jenis ZA bersubsidi harga Rp 75 ribu per sak, sedangkan nonsubsidi Rp 200 ribu. Bahkan, di kios pupuk yang mengambil dari agen dijual Rp 240 ribu. “Untuk pembeli rerata petani kelas ekonominya menengah ke atas. Untuk petani kecil masih bertahan menunggu subsidi,” jelasnya.

Menurut Denny banyaknya permintaan pupuk nonsubsidi karena pupuk bersubsidi belum terdistribusi. Dan jika pupuk subsidi belum bisa turun, dipastikan pihaknya belum bisa mencukupi permintaan. “Tidak menjual pupuk yang disubsidi pemerintah,” ujarnya. (irv)

(bj/msu/nae/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia