RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bingung mencari tempat untuk wisata di akhir pekan? Bojonegoro punya pilihan yang cukup beragam.
Tidak semuanya berupa tempat wisata dengan wahana atau bangunan yang mencolok. Ada kawasan minyak tradisional, sumber api alami, waduk, warung ikan di tengah hutan hingga ruang publik di jantung kota.
Baca Juga: Jalur Lingkar Selatan Masih Belum Jelas, Rencana Awal Melintas 16 Desa di Bojonegoro
Jika disusun seperti sebuah perjalanan, singgah di Bojonegoro bisa dimulai dari kawasan pegunungan Wonocolo dan berakhir di pusat kota.
1. Teksas Wonocolo
Berada di Kecamatan Kedewan, Teksas Wonocolo menawarkan suasana yang berbeda dari tempat pinarak pada umumnya.
Kawasan ini merupakan bagian dari Petroleum Geoheritage Bojonegoro, dengan aktivitas penambangan minyak tradisional yang masih dapat dijumpai.
Rig kayu dan sumur-sumur minyak menjadi pemandangan khas kawasan tersebut. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga memasukkan Wonocolo sebagai salah satu titik penting dalam Geopark Bojonegoro.
2. Kayangan Api
Perjalanan bisa dilanjutkan menuju Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.
Daya tarik utamanya bukan sekadar tempat untuk duduk santai, melainkan fenomena geologi berupa gas alam yang keluar melalui rekahan dan dapat menyala. Kawasan ini berada di tengah hutan dan telah dikembangkan sebagai salah satu objek wisata alam Bojonegoro.
Baca Juga: 7.353 KPM PKH Terlibat Judi Online, DPRD Bojonegoro Dukung Blokir Rekening
Suasana rindang membuat Kayangan Api bisa menjadi pilihan untuk berhenti sejenak sekaligus mengenal salah satu kekayaan geologi daerah.
3. Waduk Pacal dan Warung Semok
Kalau perjalanan mulai terasa menguras tenaga, Waduk Pacal punya alasan lain untuk disinggahi, yakni keindahan lanskap juga kuliner.
Di sekitar kawasan tersebut terdapat Warung Semok Mbak Sumi Waduk Pacal yang dikenal dengan menu ikan air tawar, terutama iwak gloso.
Warung ini berada di kawasan hutan jati dekat Waduk Pacal dan sudah beroperasi sejak 2006. Ikan gloso yang menjadi menu andalan disebut berasal dari hasil tangkapan di perairan Waduk Pacal.
Baca Juga: Upacara Penurunan Bendera Merah Putih di Alun-alun Bojonegoro Dimeriahkan Parade Marching Band
Menu lain seperti nila, mujair, wader dan udang juga tersedia. Pilihan nasi jagung dan tiwul membuat pengalaman makan di tempat ini terasa lebih khas. Namun, perlu dicatat. Warung tersebut terkadang siang menjelang sore sudah kehabisan stok.
4. Taman Pinggir Nggawan
Bergerak mendekati kawasan kota, ada Taman Pinggir Nggawan atau TPG di Desa Pilanggede, Kecamatan Balen.
Seperti namanya, kawasan ini menawarkan suasana di tepian sungai. Tempat tersebut menjadi salah satu alternatif ruang wisata bagi warga yang ingin menikmati suasana terbuka tanpa harus pergi terlalu jauh ke kawasan perbukitan.
Baca Juga: 301 Warga Binaan Lapas Bojonegoro Terima Remisi HUT ke-81 RI
5. Maliogoro, Jalan MH Thamrin
Memasuki kota, suasana pinarak berubah. Salah satu tempat yang cukup dikenal warga adalah MALIOGORO di Jalan MH Thamrin.
Kawasan yang oleh masyarakat disebut Maliogoro ini berkembang menjadi salah satu ruang publik dan tempat berkumpul warga.
Setelah penataan Jalan MH Thamrin, kawasan tersebut juga menjadi ruang ekonomi bagi pedagang kaki lima.
Datang sore atau malam, pengunjung bisa berjalan kaki, menikmati suasana kota, sekaligus mencari jajanan yang dijajakan di sekitar kawasan.
6. Museum Rajekwesi
Bagi yang ingin pinarak sekaligus menambah pengetahuan, Museum Rajekwesi bisa menjadi pilihan.
Museum Rajekwesi berada di Jalan Pahlawan No. 9, tidak jauh dari kawasan Alun-Alun Bojonegoro. Museum ini resmi diresmikan pada Oktober 2025 setelah menempati eks Gedung Kantor Inspektorat. Konsepnya membawa sejarah dan warisan budaya Bojonegoro ke ruang yang lebih modern dan edukatif.
Lokasinya yang berada di tengah kota membuat museum ini mudah dipadukan dengan agenda jalan-jalan di pusat Bojonegoro.
7. Alun-Alun Bojonegoro
Sebagai penutup, Alun-Alun Bojonegoro tetap menjadi salah satu pilihan paling sederhana untuk pinarak.
Baca Juga: Malam Kemerdekaan, Pemkab Bojonegoro Gelar Apel Kehormatan dan Renungan Suci di TMP
Ruang publik ini digunakan masyarakat untuk berolahraga, bersantai, bermain bersama keluarga hingga melakukan berbagai aktivitas sosial.
Pemerintah daerah juga tengah melakukan revitalisasi kawasan tersebut pada 2026 dengan tetap mempertahankan pepohonan yang menjadi bagian dari ruang terbuka hijau.
Dari pegunungan Wonocolo hingga pusat kota, pinarak di Bojonegoro ternyata tidak harus selalu berarti mencari tempat baru.
Kadang, perjalanan justru menjadi bagian menariknya, melihat minyak tradisional, menikmati api alami, makan iwak gloso, hingga menutup sore dengan berjalan santai di tengah kota. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari