RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemerintah kabupaten (pemkab) tampaknya serius dengan penilaian Unesco Global Geopark (UGGp). Potensi daya tarik wisata pun terus ditambah. Kini tercatat sebanyak 28 situs ditonjolkan.
Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Disbudpar Bojonegoro Amin Asrofin menyampaikan, dilakukan kunjungan tim UGGp pada akhir Juli mendatang. Sedangkan, hasil penilaian diprediksi masih tahun depan.
Dia menjelaskan, penilaian UGGp memiliki sejumlah dampak. Antara lain sebagai branding daerah hingga dapat meningkatkan daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
Baca Juga: Ramalan Leluhur Desa Drenges Terjawab Lewat Pengembangan Geopark
"Juga, bisa menjadi prioritas dan bantuan lebih mudah. Khususnya dalam ripparnas (rencana iduk pembangunan kepariwisataan nasional) dan ripparprov (rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi)," jelas dia.
Berdasar data dinas kebudayaan dan pariwisata (disbudpar), 28 situs itu meliputi 21 geological sites (geosite) atau situs geologi, empat culture sites atau situs budaya, dan tiga biological sites (biosite) atau situs biologi.
Tiga biosite itu meliputi Agrowisata Kebun Belimbing Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu; Penangkaran Rusa Malo di Desa Rendeng, Kecamatan Malo; dan Hutan Jati Gondang di Desa Pajeng, Kecamatan Gondang.
Sementara, empat culture sites yakni Masyarakat Samin Desa/Kecamatan Margomulyo; Petilasan Angling Dharma Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu; Makam Orang Kalang di Desa Trembes, Kecamatan Malo; dan Makam Wali Kidangan Desa Sukorejo, Kecamatan Malo.
Sementara, 21 situs geologi di antaranya Kahyangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem; Formasi Wonocolo Hargomulyo Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan; Antiklin Kawengan di Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan; Atas Angin Formasi Kalibeng Deling, Desa Deling, Kecamatan Sekar; dan Mata Air Panas Banyu Kuning Desa Krondonan, Kecamatan Gondang.
Disusul Formasi Sunde Kedung Maro di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang; Kedung Lantung Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras; Formasi Bulu Beji Desa Beji, Kecamatan Kedewan; Lektotipe Elephas Hysudrindicus Tinggang Desa Bancer, Kecamatan Ngraho; dan Geoarkeologi Matar di Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo.
Kemudian, Endapan Teras Sungai Bengawan Solo Tengger di Desa Tengger, Kecamatan Ngasem; Bentonit Kedungpeti Desa Ketileng, Kecamatan Malo; Kompleks Goa Sumberarum Desa Sumberarum, Kecamatan Dander; Selo Gajah Desa Jari, Kecamatan Gondang; Intrusi Watu Gandul Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang; dan Fosil Gigi Hiu Jono Desa Jono, Kecamatan Temayang.
Baca Juga: Menuju UNESCO Global Geopark, Bojonegoro Kebut Revitalisasi Rembesan Minyak Alami Kedung Lantung
Serta, Formasi Klitik Waduk Pacal Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang; Lapisan Batu Gamping Kokina Formasi Lidah Bareng Desa Bareng, Kecamatan Sugihwaras; Hipostratotipe Formasi Kalibeng Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang; Endapan Flysch Formasi Kerek Margomulyo Desa/Kecamatan Margomulyo; dan Intrusi Gunung Watu Desa Krondonan, Kecamatan Gondang. (yna/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko