RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bandealit merupakan nama dusun di wilayah Kabupaten Jember, tepatnya masuk Desa Andongrejo Kecamatan Tempurejo. Namun nama dusun tersebut lebih terkenal dibanding nama desa atau kecamatannya. Sebab, Bandealit merupakan pintu gerbang barat Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Dari dusun inilah menjadi awal dari perjalanan menakjubkan menyusuri hutan tropis primer menuju Sukamade, kawasan penangkaran penyu di pesisir selatan Banyuwangi.
Scrolling sepanjang ±18 km jalur trekking hutan rendah, pengunjung akan melewati tebing curam, sungai jernih, hingga savana terbuka. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam 2–3 hari penuh ini membentang di atas kawasan hutan hujan tropika dan memadukan rasa lelah fisik dengan kekaguman akan alam yang masih asli.
Menurut Balai TNMB, jalur ini klasik — dikenal sebagai “Jungle Track Bandealit–Sukamade” — jalur favorit para petualang dan peneliti. Di sepanjang jalur, biasanya pengunjung akan singgah di Teluk Meru dan Pantai Permisan, dengan pendirian camp di Camp II, sebelum akhirnya tiba di Sukamade di hari ketiga. Tentu saja untuk masuk ke TNMB harus seizin dan mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan Balai TNMB.
Menyelami Flora & Fauna Legendaris
TN Meru Betiri membentang seluas sekitar 52.626 ha (±526 km²), Zona konservasi dengan lima zona fungsi—inti, rimba, perlindungan bahari, pemanfaatan, dan rehabilitasi/revitalisasi. Hutan dataran rendah hingga perbukitan, dengan puncak mencapai ±1.223 m di Gunung Betiri. Eksplorasi terbaru dari Balai TNMB (Agustus 2020) mencatat kemunculan Rafflesia zollingeriana yang mekar sempurna dengan diameter mencapai 37 cm di jalur Bandealit—tanda keberhasilan monitoring aktif terhadap flora endemik yang langka.
TNMB menyimpan sekitar 336 jenis fauna: 25 mamalia (18 dilindungi), 7 reptil (6 dilindungi), 168 jenis burung (68 dilindungi), plus insekta, bivalvia, dan arthropoda. Satwa khasnya termasuk Macan tutul Jawa, kukang, lutung, monyet ekor panjang, rusa, merak, bajing terbang ekor merah, dan penyu di pantai Sukamade. Bahkan konon diyakini juga terdapat habitat Harimau Jawa (Panthera tigris) yang sudah dinyatakan punah.
Konservasi & Populasi Penting
Populasi banteng Jawa (Bos javanicus) di dalam Taman terus bertambah: sejak 2018 hanya 65 ekor, kini mencapai 72 ekor per September 2023 berdasarkan data dari Balai TNMB—hasil monitoring lima tahun terakhir menggunakan kamera-trap.
Sementara populasi Rafflesia zollingeriana sempat turun drastis akibat tsunami dan pemungutan ilegal, sejak tahu 2000—2003. Kini menjadi prioritas monitoring dengan plot permanen. Mekarnya Rafflesia di jalur Bandealit melambangkan harapan konservasi.
TNMB juga menjadi salah satu “home” terakhir bagi keanekaragaman hayati tropika dataran rendah di Pulau Jawa dan masuk dalam jangkauan UNESCO Biosphere Reserve Balambangan bersama Ci Alas Purwo, Baluran, dan Kawah Ijen sejak 2016.
Edukasi, Penelitian, dan Ekowisata
Jalur Bandealit–Sukamade bukan sekadar trek petualangan — ini adalah laboratorium alam terbuka. Peneliti dari berbagai perguruan tinggi, termasuk para organisasi mahasiswa pencinta alam, seperti Mahasiswa Pencinta Alam Semesta (Mapensa) Fakultas Pertanian Universitas Jember secara rutin memanfaatkan jalur ini untuk analisa vegetasi, studi populasi lutung Jawa, keragaman flora obat, dan jalur birdwatching. Jalur birdwatching menampilkan tiga lintasan utama: Muara Timur, Savana, dan Lintasan Satwa.
Baca Juga: Tujuh Destinasi Wisata Bojonegoro Masuk Wisata Geopark, Kayangan Api Menjadi Primadona
Di Sukamade, program konservasi penyu menerima pengunjung untuk pelepasan tukik (anak penyu), sarana edukasi dasar, dan camping di zona rimba dan zona pemanfaatan. Fasilitas termasuk pondasi penangkaran, warung, MCK, bahkan sumber tenaga listrik sederhana untuk mendukung operasional lapangan.
Akhir dari perjalanan panjang di Sukamade menyisakan rasa haru: menaburkan ratusan tukik ke gelombang senja, menyaksikan hewan langka hidup damai, dan belajar langsung bahwa konservasi, riset, dan ekowisata bisa berjalan seiring—ketika alam dihormati dan dijaga.
Dengan luas 52.626 ha, lebih dari 336 jenis fauna, ratusan flora endemik, monitoring populasi banteng & Rafflesia terkini, dan jalur trekking spektakuler: jalur Bandealit–Sukamade adalah simbol sinergi alam, ilmu, dan manusia. Sebuah pengalaman yang bukan hanya “berharga” — tapi juga membawa tanggung jawab besar untuk melestarikannya bersama. (feb)
Editor : Hakam Alghivari