Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Atik Kariasih, Pengusaha Kue Langganan Pengusaha Migas, Prinsipnya Mahal Tidak Masalah, Asal Rasanya Berkualitas

Hakam Alghivari • Minggu, 25 Februari 2024 | 19:30 WIB
BERKUALITAS: Atik Kariasih menunjukkan salah satu kue dari tangan dinginnya. (HAKAM ALGHIFARI/RDR.BJN)
BERKUALITAS: Atik Kariasih menunjukkan salah satu kue dari tangan dinginnya. (HAKAM ALGHIFARI/RDR.BJN)

Keberhasilan Atik Kariasih saat ini berawal dari perjuangan hingga tangisan. Dari kondisi ekonomi terpuruk membuat bertekad bangkit dengan berjualan kue.

DEWI SAFITRI, Radar Bojonegoro.


BERAGAM jenis kue terpajang rapi di etalase kaca di toko kue Atik Kariasih. Aroma harum menyeruak dari oven dek, memikat siapapun menyantap kue lezat dengan beragam jenis itu.

Atik memulai untuk berjualan kue karena kepepet. Ekonomi keluarga sedang jatuh, memicu dia bersama suaminya harus memutar otak mencari sumber pundi-pundi rupiah.

Sempat membuka usaha pakaian anak. Namun, karena dalam dunia fashion terus berkembang setiap tahun dan modal yang dimilikinya kurang. Banting setir berjualan kue.

Alumni D3 Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang itu memulai usaha kue mulai dari nol. Belajar membuat kue secara otodidak, hanya dari media sosial.

Dalam memulai usahanya, Atik baru bisa membuat dua jenis kue, yakni risol dan dimsum. Dengan semangat dan tekad kuat memasarkan kue-kuenya dengan beragam cara.

Mulai dari menitipkan ke toko hingga berjualan saat car free day (CFD) di Alun-Alun Bojonegoro.

‘’Pagi menitipkan kue, sorenya diambil. Sehari hanya memperoleh omset sekitar Rp 35.000 saat itu,’’ kenang perempuan asal Desa Kuncen, Kecamatan Padangan tersebut.

Meski bukan dari jurusan tataboga, tidak memengaruhi tekad Atik dalam mempelajari resep. Kemampuannya terus berkembang seiring dengan tingginya semangat untuk terus belajar.

Tidak langsung bisa, dalam praktiknya, kerap menemui kegagalan hingga berakhir membuang semua bahan yang sangat berharga itu. ‘’Trial dan error sering terjadi dalam percobaan pembuatan resep baru,’’ tambahnya.

Jatah gagal sudah habis, hingga mencapai keberhasilan  produksi kue dengan rasa lezat dan tekstur sesuai keinginan. Tidak heran, apabila kemampuannya terus berkembang. Dari yang awalnya hanya bisa membuat dua jenis kue, kini ia sudah menguasai berbagai resep. Apapun request jenis kue customernya saat ini, selalu berhasil dibuat dan membuat pelanggannya puas.

Bahkan, omzetnya telah naik berkali-lipat dari awal usahanya. Yakni, mencapai puluhan juta perbulan. ‘’Kuncinya, sekali gagal, harus berjuta kali bangkit dan mencoba lagi,’’ tuturnya.

Kegigihan dan semangat Atik selama lima tahun berkecimpung dalam dunia usaha kue tidak sia-sia. Meski sering direndahkan pada awal-awal usahanya, hingga tak jarang tangisan hadir mengiringi langkahnya. Tidak membuatnya terhenti, justru segala duka masa lalu tersebut menjadi pemantik kesuksesannya sekarang.

Kini Atik berhasil membuka toko kue dengan kualitas tidak diragukan lagi. Bahkan, pelanggannya meluas hingga para pejabat di perusahaan-perusahaan migas besar.

Kue buatannya selalu memiliki rasa spesial karena mengutamakan kualitas bahan. Baginya, mahal tidak masalah asal rasanya berkualitas.

‘’Alhamdulillah, pada 2022 lalu berhasil membuka toko kue Mom Hai dan telah memiliki sertifikat resmi dan dinyatakan halal,’’ tutupnya dengan senyuman. (*/msu)

Editor : Hakam Alghivari
#Pengusaha #kualitas #kue #bojonegoro #lezat