SUARA tetabuhan karawitan menyelimuti kedatangan satu per satu warga berdatangan di sekitar Gua Sumur. Kian ramai warga, nada karawitan semakin rancak. Sinden dengan suara yang melengking membuka wajah-wajah warga Desa Sumberarum, Kecamatan Dander, menjadi tersenyum.
Masyarakat Desa Sumberarum, Kecamatan Dander menggelar sedekah bumi di Gua Sumur Jumat (30/6). Ratusan masyarakat memenuhi area gua dengan membawa ambeng. Berisi nasi, ayam panggang, lauk pauk pelengkap, dan sayur. Tak tertinggal beragam jajanan. Meliputi, kucur, onde-onde, rengginan, gapit, dan jajanan-jananan pasar lainnya.
Sedekah bumi warga Desa Sumberarum bentuk rasa syukur masyarakat setempat atas segala hasil alam didapatkan. Terlebih sebagian besar masyarakat sebagai petani. ‘’Dilaksanakan setiap tahun pada Jumat Pahing,’’ tutur Kepala Desa Sumberarum Sugeng.
Setiap warga membawa ambeng dan saling menukarkannya. Setelah Salat Jumat, dilanjut acara langen tayub. Malamnya juga ada hiburan di rumah kepala desa. ‘’Manganan di gua ini wujud dari uri-uri budaya,’’ jelasnya.
Uniknya, sedekah bumi tersebut terdapat tradisi kaul. Yakni, tradisi dilakukan masyarakat setempat apabila hajatnya terpenuhi. Misalnya, sembuh dari penyakit atau tercapainya suatu keinginan. Kaul dilakukan dengan berjoget bersama sinden. Sementara, untuk anak kecil, selain dijogetkan, kaul juga dilakukan dengan meminta cium sinden.
Astutik salah satu warga Dusun Gua Sumur, Desa Sumberarum mengatakan, kaul untuk anak-anak dilakukan dengan cara, anak digendong oleh bapak atau kerabat laki-lakinya. Kemudian berjoget bersama sinden dalam gendongan.
Namun, beberapa anak rewel atau tidak memungkinkan diajak berjoget bersama. Sehingga cukup dimintakan cium sinden saja.
‘’Seperti anak saya, baru sembuh dari sakit. Dan membuat uni (janji), kalau sembuh akan dikauli. Tapi, karena sama dokter dilarang dibawa berkerumun. Sehingga hanya dimintakan cium sinden,’’ tuturnya. (ewi/rij)
Editor : Yuan Edo Ramadhana