Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menengok Pembuatan Beragam Jenis Rebana, Gunakan Kulit Kambing Betina

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 2 Juli 2023 | 19:37 WIB
CEKATAN: Agus Irianto saat memasang kulit di kayu untuk menghasilkan rebana banjari. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
CEKATAN: Agus Irianto saat memasang kulit di kayu untuk menghasilkan rebana banjari. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)

 

LAMONGAN, Radar Lamongan - Terik panas matahari cukup menyengat, saat wartawan koran ini menuju rumah Agus Irianto, perajin rebana di Desa Puter, Kecamatan Kembangbahu, kemarin (1/7). Sesampainya di depan rumahnya, Agus tampak sibuk memasang kulit ke sebuah kayu berdiamter 60 centimeter (cm). Setelah memasang bagian rebana ini, selanjutnya dipaku menggunakan paku kecil dengan cekatan.

 ‘’Kulit rebana ini harus dari kambing betina, karena agak tipis dan sedang (tidak terlalu tebal, Red),’’ tutur Agus, sapaan akrabnya.

Menurut dia, tidak ada patokan terhadap umur kambing betina yang digunakan. Sebaliknya, untuk kulit sapi terlalu tebal dan cocoknya digunakan untuk bedug. Sedangkan, untuk kulit kambing jantan masih lebih tebal, dan kurang cocok untuk digunakan rebana. 

‘’Kalau kulitnya tebal tidak bunyi mas,’’ ujar pria yang sudah 18 tahun menjadi perajin rebana ini.

Agus memahami proses mengolah kulit kambing betina hingga siap dijadikan rebana. Namun, Agus memilih membeli kulit kambing betina yang sudah jadi dan tinggal pasang. Sebab, proses mengolah kulit kambing betina membutuhkan waktu yang lama.

‘’Satu kulit kambing bisa menghasilkan empat rebana. Kulit yang bagus bagian punggung, proses kulit ini cukup lama,’’ imbuhnya.

Selain kulit, rebana juga menggunakan bahan kayu. Agus mendatangkan kayu dari Kudus dan Jepara dengan jenis kayu mangga, mahoni, dan nangka. Beberapa tahapan pemrosesan kayu meliputi pembakaran, digosok hingga halus, diplitur, selanjutnya memasang kulit dengan kayu. Agus tidak memasang target dalam menyelesaikan rebana.

‘’Tidak bisa menarget gini, jadi kalau ada yang pesan satu minggu jadi, berjalan saja, terkadang juga saya nyetok,’’ katanya.

TES SUARA: Selama 18 tahun menggeluti bisnis rebana, Agus Irianto mendapatkan banyak pesanan dari luar daerah hingga luar provinsi. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
TES SUARA: Selama 18 tahun menggeluti bisnis rebana, Agus Irianto mendapatkan banyak pesanan dari luar daerah hingga luar provinsi. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)

Agus menghasilkan tiga jenis rebana yakni rebana habsyi, murnian, dan isyari. Rebana habsyi satu paket terdapat 10 alat. Di antaranya banjari empat unit, darbuka satu unit, bass satu unit, keplak dua unit, tam dan kecrek masing-masing satu unit.  Sedangkan, satu paket rebana murnian terdapat lima alat yakni banjari empat unit dan bass kulit satu unit. Untuk satu paket jenis isyari terdapat empat unit rebana.

‘’Biasanya orang membeli satu paket komplit, jadi tinggal memainkan,’’ terangnya.

Dia mengakui ukuran rebana berbeda-beda. Banjari misalnya, memiliki ukuran standar sekitar 30 cm. Sedangkan keplak berukuran 22 cm, serta bass berukuran 40 cm.

‘’Rebana ini biasanya digunakan untuk kegiatan hiburan bernuansa Islam, hadrah, dan salawatan,’’ ucapnya.

Agus mengaku mendapatkan pesanan rebana hingga keluar provinsi seperti Kalimantan dan Lampung. Selain memasarkan via online, dia juga menitipkan di sejumlah toko di Lamongan. Agus menuturkan, ramainya pesanan rebana ketika Maulid Nabi.

‘’Ini sudah mulai stok barang. Kalau ramai biasanya minta tolong kakak dan istri,’’ pungkasnya. (sip/ind)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#seni #Kulit Kambing #Bisnis #umkm #usaha #kayu #rebana #kerajinan #banjari