Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Gelombang Samudra

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 30 April 2023 | 15:54 WIB
Ilustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)
Ilustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)

“Dari sekian banyaknya deburan ombak berlomba-lomba mencapai tepi pantai, mereka semua berhasil mencapainya. Ibarat ombak adalah Aku; dan tepi pantai itu adalah kamu, bisakah bagiku-sang pengagum rahasiamu–untuk menggapaimu? Karena Aku hanya bisa membuktikan cinta melalui dirimu yang kunyatakan abadi dalam karya seniku. Bukankah cinta adalah seni?”

SENJA, bukan akhir untuk berpisah. Namun ia menjadi penanda bahwa petang akan segera tiba. Lalu esok hari menyapa, dengan kembali untuk bercerita.  Pantai maupun laut, mereka kerap menjadi tempat di mana para remaja masa kini ingin meluapkan seluruh keluh kesahnya. Kedua tempat itu bisa juga digunakan penyembuhan diri, atau biasa disebut healing.

Tempat sunyi sepi serta menenangkan digemari orang-orang memiliki kepribadian introvert. Mereka lebih senang dan nyaman berada di tempat tak begitu ricuh. Salah satunya ialah seorang lelaki remaja saat ini terduduk manis di atas gelaran tikar sembari melakukan suatu hal menjadi rutinitasnya, yakni belajar.

Pantai memang menjadi tempat pilihan terbaik belajar. Misalnya; belajar melepaskan dirinya. “Saga, lukisan senja, untukmu.” Ah, ya! Seorang gadis dengan rambut pendek terurainya berada di tempat sama seperti sosok laki-laki dengan buku pelajaran di tangannya.

Izinkan ku lukis senja

Pandangan lelaki bernama panggilan Saga memiliki julukan bermata empat itu beralih pada kanvas dengan ukuran sedang, telah terpenuhi lukisan tangan langsung dari Utalika Oceannie-gadis remaja tengah menyodorkan lukisannya untuk ditunjukkan pada Saga-Tarangga Sagara.

Saga melepas kacamata semula dipakainya, sementara ia melihat lukisan tangan Annie dengan mata telanjang. Sebenarnya laki-laki itu hanya mengenakan kacamata saat dirinya belajar.

“Aku?” tanya Saga dengan jari telunjuknya menunjuk salah satu objek lukisan berlatar belakang senja. Tampak seorang laki-laki duduk dengan buku di tangannya, terlukis jelas serta menjadi salah satu objek lukisan indah tersebut. Di sana terselip nama Tarangga Sagara.

Mengukir namamu di sana

Annie mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berucap, “Tarangga Sagara.” dengan bulan sabit tercipta di salah satu titik wajahnya.

Mendengar kamu bercerita

Menangis tertawa

Satu kali lagi, Annie menyodorkan sebuah lukisan di kanvas ukuran sama seperti sebelumnya. Namun, lukisan terpampang jelas di kanvas memiliki tema berbeda. Bukan senja lagi, melainkan langit biru tua disertai bintik-bintik putih menghiasi langit. “Lalu ini, langit malam tenang untuk meditasi.”

Biar kulukis malam

Bawa kamu bintang-bintang

Tuk temanimu yang terluka

Hingga kau bahagia

“Bagus. Sekarang belajar, ya?” tanyanya sembari menepuk-nepuk sebagian dari gelaran tikar yang kosong, seakan menyuruh Annie duduk di sana.

Annie sama sekali tidak memiliki niat belajar pun tak kunjung mendudukkan dirinya di alas tikar. Justru ia kembali ke posisi utamanya, yakni duduk di kursi berhadapan dengan mesia kanvas (penyangga kanvas). Annie tak membawa lukisan kanvas tadinya ia pegang, tapi ia letakkan di atas tumpukan buku-buku Saga.

Saga menghela napasnya, menghirup wangi khas pantai menenangkan hatinya. “Uta,” panggil Saga dengan suara terdengar sangat halus, sehalus pasir pantai.

Annie hanya berdeham pelan sebagai sahutannya, seraya ia meletakkan kanvas ukuran cukup besar di penyangganya. Ia mulai mencampurkan beberapa warna menciptakan sebuah warna diinginkan. Kemudian ia mulai mengoleskan kuas tercampur dengan cat air.

Dengan lihainya, jari-jemari memegang kuas memoleskan warna abstrak indah. Ia lebih menyukai lukisan abstrak. Tentu, ia sering melukis warna-warna abstrak akhirnya akan menunjukkan hasil tak terduga. Setiap lukisan asli dari tangan Annie memiliki arti tersendiri, bagi siapa saja menyadari akan hal itu. Bahkan setiap goresannya memiliki makna.

“Setiap hari belajar, kan?” Kini Saga berada tepat di belakang Annie sedang melukis. Tiada rasa gerogi sedikit pun dari Annie, walau Saga di dekatnya. Justru jantungnya terpacu cepat karena pertanyaan dari Saga.

‘’Iya, belajar setiap hari di sekolah, hehehe,” jawab Annie disertai tawa kecilnya, membuat Saga menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tanpa diketahui Saga sendiri, kesadarannya tidak dapat terkontrol. Jari-jemari Saga mulai merapikan rambut Annie menutupi wajah ayu gadis itu. Menyelipkan rambutnya ke belakang telinga Annie. Saga masih belum sadar ia peragakan, hingga sebutir pasir lembut terkena embusan angin masuk mengenai salah satu bola mata Saga.

Saga mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, mata kirinya terasa perih dan gatal. ‘’Uta, tolong tiup mata Saga,” titah Saga dengan cepat. Matanya tidak dapat menahan perih lagi, membuat bulir-bulir air mata merembes keluar dari kantung mata.

Mendengar tuturan Saga, Annie berdiri dan membalikkan badannya 180 derajat menghadap Saga, lalu meletakkan alat lukisnya di kursi semula ia duduki. Annie berjinjit menyetarakan tinggi Saga melebihi dirinya. Saga akhirnya sedikit membungkuk, menyamakan tingginya. “Dasar pendek, haha,” ejeknya sembari tertawa kecil.

Annie berdecak kesal ejekan Saga, tetapi ia tak menggubrisnya. Ia kembali meniup pelan kornea mata berwarna cokelat gelap terselip butiran pasir.

***

“Kamu hanya teman seniku, Annie.”

Andai kutahu ‘kan sesakit ini

Sungguh pengakuan menyakitkan. Memang salah menaruh perasaan dan harapan lebih pada orang sedari awal sudah jelas tak ‘kan bisa digapai.

Ku takkan mungkin mencintaimu sedalam ini

Dari banyaknya kasus serupa, yang divonis salah bukanlah pihak menolak. Melainkan pihak memaksakan perasaan itu tetap ada dan tidak berpaling ke orang lain yang lebih menghargai mereka.

“Bahkan berbagai macam jenis seni pun dapat menyatu. Mengapa hal simpel seperti aku dan kamu tidak bisa menjadi kita?”

Bukan hal simpel bila salah satu dari kedua pihak tidak membalas perasaan tersebut. Namun, apalah daya, perasaan tidak bisa dipaksakan, bukan? Berpura-pura mencintai pun ujung-ujungnya hanya membuat sakit hati lagi dan lagi.

‘’Lalu sekarang, kamu akan pergi setelah kudengar pengakuan menyakitkan darimu?”

Sialnya saat kau pergi, ku terus menanti

Kau yang buatku jatuh hati, kini hilang tak kembali

Saga mengambil salah satu kuas tergeletak berantakan di meja lukisnya. ‘’Aku berhak menentukan kuas pantas untuk kupakai dan kubuang.” Bisakah kalian memahaminya? Itu hanya serangkaian kata yang simpel. Mungkin tidak terlalu rumit untuk dipahami.

“Bagaimanapun kerusakannya, seorang seniman sejati tidak akan membuang kuasnya begitu saja.” Benar. Handle kuas yang patah maupun bristle yang rontok atau sudah tak berupa rambut kuas, jikalau dirimu mengaku sebagai seorang seniman, engkau tidak mungkin dengan mudahnya membuang kuas tersebut-yang selama ini telah menemanimu tatkala engkau menciptakan sebuah karya seni yang berharga.

“Mengapa diam, Tarangga Sagara?” tanya Annie sembari menggoyangkan kedua bahu Saga yang masih bergeming.

Belum mendapat jawaban dari sang lawan bicara, Annie tetap setia menggoyangkan bahu biasa ia gunakan untuk bersandar. ‘’Kehabisan kata-kata? Jawab, Saga!”

“Aku bukan seniman, Annie! Aku tidak pernah sekalipun memiliki niat bergabung dengan kesenian.” sahut Saga meninggikan nada bicaranya.

Annie dibuat terkejut dengan pengakuan kedua dari Saga. Ia tidak pernah menduga bahwa akhirnya akan seperti ini, yang hanya membuatnya semakin sakit hati. “Begitu juga dengan dirimu saat bermain musik?”

Saga mengangguk dengan raut wajah terlihat meyakinkan bahwa dirinya benar-benar tidak niat dalam hal seni. “Aku tidak bisa menjadi sepertimu yang jatuh cinta begitu dalam dengan seni. Seni sastra, seni lukis, seni musik, atau seni apa pun itu.”

Cut!” teriak sang sutradara melalui megafon telah disediakan.

Kedua insan sempat berlakon dalam drama tersebut memutuskan menepi dari tempat shooting untuk beristirahat sejenak. Ya, saat ini Saga dan Annie sedang melakukan proses shooting drama ditampilkan di sosial media sebagai salah satu ajang perlombaan dalam memperingati Hari Seni Sedunia, pada 15 April.

Tak hanya drama, Saga dan Annie juga ikut serta dalam event pameran seni rupa di sekolah dan di kotanya. Bukan kali pertamanya Saga dan Annie mengikuti event berhubungan dengan seni. Sejak mereka berada di taman kanak-kanak (TK), mereka berdua selalu mencoba hal sangat menarik bagi mereka itu bersama-sama.

“Di kehidupan nyata ini, jangan sampai kisah kita berakhir seperti itu,” gumam Annie-selaku pengagum rahasia Saga.

Ralat, seharusnya bukan pengagum rahasia, karena Saga sendiri telah mengetahui bahwa sudah lama sekali gadis kerap bersamanya itu memiliki perasaan cinta tak bisa dihilangkan.

Saga menggenggam erat jari-jemari Annie terasa dingin. Kebiasaan Annie ketika dirinya merasa gelisah belum bisa hilang juga. “Orang mana ingin kehidupannya berakhir duka, Uta? Semua orang pasti ingin bahagia. Salah satu dari banyaknya orang ingin bahagia bukankah kamu, hem?”

Eum, ini kali pertama bagiku. Jadi, maaf jika aku tidak bisa menjadi laki-laki romantis, dan kita hanya mengandalkan bakat seni kita miliki,” gumam Saga masih dapat didengar oleh telinga Annie.

Saga memang sengaja berbicara dengan nada pelan, agar tak dapat didengar oleh siapa pun. Hubungan mereka bersifat rahasia, alias backstreet.

“Kamu tahu? Kamu adalah mahakarya seni Tuhan yang sempurna. Dibutuhkan seorang seniman benar-benar tahu filosofi dari sebuah seni melihat betapa berharganya dirimu, Utalika Oceannie.”

Sebab kau terlalu indah dari sekedar kata

Annie tahu akan hal itu. Bahkan sudah kesekian kalinya Saga mengatakan hal serupa; Utalika Oceannie sempurna. “Sungguh, aku beruntung menjadi milikmu, Mas seniman, hahaha,”

“Kamu indah seperti samudra, Tarangga Sagara.”

Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu. (***)

 

 

*ALEXANDRIA AZZUKHRUF NURDITA
Siswi SMPN 2 Lamongan. Tinggal di Jalan Sunan Drajat Lamongan

Editor : M. Yusuf Purwanto
#seni #cerpen #Romansa #asmara #Lukisan