Ancaman Keamanan Siber PHP2Shell, Celah Kritis yang Bisa Membuat Server Diretas Tanpa Login

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Jumat, 23 Oktober 2026 | 11:15 WIB
PHP2Shell, ancaman keamanan siber yang Bisa Membuat Server Diretas Tanpa Login. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
PHP2Shell, ancaman keamanan siber yang Bisa Membuat Server Diretas Tanpa Login. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ancaman keamanan siber kembali menjadi perhatian setelah peneliti mengungkap PHP2Shell, serangkaian kerentanan kritis pada inti bahasa pemrograman PHP. Celah ini berpotensi memungkinkan peretas menjalankan kode berbahaya dari jarak jauh tanpa harus masuk ke akun korban.

PHP2Shell menjadi perhatian karena kerentanan tersebut berada pada core runtime PHP, yakni komponen inti yang menjalankan kode PHP di server. Dengan demikian, ancaman tidak hanya berkaitan dengan kelemahan aplikasi atau sistem pengelolaan konten, tetapi juga dapat berasal dari lingkungan pemrograman yang menjadi fondasi sebuah situs web.

Berdasarkan laporan keamanan yang dipublikasikan pada Rabu (21/10), PHP2Shell mencakup dua kerentanan yang terdaftar sebagai CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619. Keduanya memperoleh skor 9,2 dari 10 berdasarkan CVSS versi 4.0, yang menunjukkan tingkat keparahan kritis.

Temuan tersebut dilaporkan oleh tim peneliti keamanan dari Wiz dan Calif, dengan keterlibatan peneliti OpenAI dalam proses penelitian dan pengungkapan kerentanan.

Apa Itu PHP2Shell dan Mengapa Berbahaya?

PHP merupakan bahasa pemrograman yang banyak digunakan untuk membangun situs web dinamis. Teknologi ini mendukung berbagai platform populer, termasuk WordPress, Drupal, dan Joomla.

Menurut laporan penelitian Wiz, PHP digunakan oleh sekitar 70 persen situs web yang diketahui menggunakan bahasa pemrograman sisi server. Luasnya penggunaan tersebut membuat kerentanan pada komponen inti PHP berpotensi memberikan dampak yang besar terhadap keamanan infrastruktur web.

Baca Juga: Waspada! Lindungi Anak dari Ancaman Siber Saat Bermain Roblox

PHP2Shell terdiri atas dua kelompok kerentanan yang berkaitan dengan pengelolaan memori ketika PHP mengalami kesalahan fatal atau kehabisan memori.

Kerentanan pertama, CVE-2026-109618, berkaitan dengan penanganan kondisi out-of-memory. Sementara itu, CVE-2026-109619 berhubungan dengan kondisi ketika status internal PHP masih menunjuk ke bagian memori yang sudah dilepaskan.

Kesalahan tersebut dapat membuat PHP mengakses data memori yang tidak lagi valid atau belum diinisialisasi dengan benar. Dalam kondisi tertentu, penyerang dapat memanfaatkan situasi ini untuk memanipulasi proses eksekusi program.

Dampaknya tidak terbatas pada gangguan layanan. Eksploitasi yang berhasil dapat memungkinkan pelaksanaan kode dari jarak jauh atau remote code execution (RCE), bahkan tanpa autentikasi pengguna. Penyerang juga berpotensi mengakses informasi sensitif yang tersimpan dalam memori proses PHP.

Peneliti Keamanan Siber Peringatkan Perubahan Risiko Serangan

Tim peneliti Wiz yang terdiri atas Sagi Tzadik, Shir Tamari, Nir Ohfeld, dan Tomer Schwartz menjelaskan bahwa PHP2Shell menunjukkan bagaimana kerentanan pada komponen dasar dapat membahayakan aplikasi yang sebenarnya tidak memiliki kesalahan kode secara langsung.

Dalam laporan penelitiannya, Wiz menjelaskan bahwa kelemahan pada runtime PHP dapat dieksploitasi sebelum kode aplikasi berjalan. Artinya, memperbarui plugin atau memperbaiki kode situs saja belum tentu cukup apabila versi PHP yang digunakan masih rentan.

Para peneliti juga menunjukkan bahwa eksploitasi dapat dikembangkan untuk menyerang sejumlah platform pengelolaan konten, termasuk WordPress, Drupal, dan Joomla. Namun, risiko tersebut bergantung pada versi PHP, konfigurasi server, serta kondisi teknis yang memungkinkan eksploitasi berhasil.

Peringatan mengenai aktivitas serangan juga muncul dari Amazon Web Services (AWS).

Dalam laporan yang diterbitkan pada 21 Oktober 2026, AWS menyatakan bahwa sistem intelijen ancamannya mendeteksi upaya eksploitasi PHP2Shell pada 17 Oktober 2026, empat hari sebelum pengungkapan publik.

Baca Juga: Waspada Kejahatan Siber Quishing, BRI Beberkan Cara Antisipasinya

AWS kemudian melaporkan adanya peningkatan aktivitas eksploitasi setelah informasi mengenai kerentanan tersebut dipublikasikan. Meski demikian, keberadaan upaya serangan tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh percobaan berhasil menembus sistem korban.

Sementara itu, Matthew Prince, CEO dan salah satu pendiri Cloudflare, menyampaikan melalui X, sebagaimana dikutip Infosecurity Magazine, bahwa perusahaan tersebut mengamati ribuan upaya eksploitasi sebelum pengungkapan publik. Jumlahnya meningkat menjadi puluhan ribu dalam 45 menit setelah pengumuman, menurut laporan tersebut.

Temuan ini memperlihatkan betapa cepatnya aktivitas pemindaian dan percobaan serangan dapat meningkat ketika informasi mengenai kerentanan kritis mulai diketahui publik.

Penjelasan Berdasarkan Penelitian dan Literatur Keamanan Siber

Dari sisi ilmiah, PHP2Shell berkaitan dengan konsep memory safety, yaitu mekanisme yang memastikan program mengakses dan mengelola memori secara benar.

Dua masalah yang ditemukan pada PHP2Shell memiliki hubungan dengan konsep use-after-free dan akses terhadap penunjuk memori yang belum diinisialisasi.

Use-after-free terjadi ketika program masih menggunakan alamat memori setelah bagian memori tersebut dilepaskan. Sementara itu, penunjuk memori yang belum diinisialisasi dapat mengarahkan program ke lokasi yang tidak semestinya.

Kedua kondisi tersebut dapat memicu kerusakan memori, gangguan layanan, kebocoran informasi, atau menjadi bagian dari rangkaian eksploitasi yang memungkinkan penyerang menjalankan kode.

Penjelasan teknis ini sejalan dengan klasifikasi kelemahan perangkat lunak dalam Common Weakness Enumeration (CWE), sebuah katalog yang dikelola MITRE untuk mengidentifikasi dan menjelaskan jenis-jenis kelemahan keamanan perangkat lunak. Dalam kasus PHP2Shell, kedua kerentanan diklasifikasikan sebagai CWE-824, yakni akses terhadap penunjuk yang belum diinisialisasi.

Cara Mencegah Ancaman PHP2Shell

Pengelola situs web dan administrator server disarankan segera memeriksa versi PHP yang digunakan. Tim pengembang PHP telah menerbitkan versi perbaikan untuk sejumlah cabang yang masih didukung, yaitu PHP 8.2.35, 8.3.36, 8.4.27, dan 8.5.12.

Organisasi perlu meningkatkan sistem ke versi perbaikan yang sesuai, sekaligus memastikan aplikasi tetap berjalan normal setelah pembaruan. PHP versi 8.1 dan yang lebih lama juga perlu mendapat perhatian karena cabang tersebut tidak lagi memperoleh dukungan pembaruan keamanan reguler.

Selain memperbarui PHP, pengelola server perlu memeriksa log permintaan HTTP, mengawasi proses yang berjalan secara tidak wajar, serta mendeteksi perubahan file yang tidak dikenal. Apabila ditemukan indikasi kompromi, pemeriksaan perlu diperluas untuk memastikan apakah kredensial, token akses, atau informasi sensitif lainnya telah terpapar.

Perlindungan tambahan, seperti web application firewall (WAF), dapat membantu mengurangi risiko selama proses pembaruan berlangsung. Namun, perlindungan tersebut tidak menggantikan pemasangan pembaruan keamanan resmi.

Kasus PHP2Shell menjadi pengingat bahwa keamanan situs web tidak hanya ditentukan oleh kekuatan kata sandi atau perlindungan akun. Komponen dasar seperti bahasa pemrograman, sistem operasi, dan perangkat lunak server juga harus selalu diperbarui agar tidak menjadi pintu masuk bagi serangan siber. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
PHP2Shell Aplikasi teknologi situs web keamanan siber