RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, di balik teknologi yang semakin canggih tersebut, ada persoalan lingkungan yang mulai menjadi perhatian: penggunaan air dalam jumlah besar untuk menjalankan pusat data AI.
Lantas, benarkah AI bisa menyebabkan kekeringan?
Jawabannya tidak sesederhana itu. AI bukan penyebab langsung kekeringan, tetapi perkembangan teknologi ini dapat meningkatkan tekanan terhadap sumber air, terutama di wilayah yang memang sudah mengalami kelangkaan air.
AI Membutuhkan Air untuk Mendinginkan Server
Sistem AI membutuhkan pusat data dengan ribuan bahkan jutaan chip komputer. Saat bekerja, chip tersebut menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendinginan.
Baca Juga: Opini: Merawat Nasionalisme di Era Digital Artificial Intelligence
Pada sejumlah pusat data, air digunakan dalam proses pendinginan. Sebagian air dapat menguap selama proses tersebut.
Penggunaan air juga tidak hanya berasal dari pusat data. Pembangkit listrik yang memasok energi untuk server juga dapat menggunakan air dalam proses produksinya.
Artinya, semakin besar kebutuhan komputasi AI, semakin besar pula infrastruktur yang harus disiapkan.
Jejak Air AI Bisa Mencapai Miliaran Meter Kubik
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2026 memperkirakan jejak air global AI dapat mencapai 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik per tahun pada 2027.
Angka tersebut mencakup penggunaan air untuk berbagai kebutuhan, termasuk pendinginan, pembangkitan listrik dan pembuatan perangkat keras.
Namun, angka tersebut bukan berarti setiap kali seseorang menggunakan chatbot AI, air langsung habis dalam jumlah besar.
Konsumsi air setiap layanan AI sangat bergantung pada teknologi yang digunakan, efisiensi pusat data, sistem pendinginan, sumber energi dan lokasi fasilitas.
Google, misalnya, memperkirakan satu permintaan teks median pada Gemini membutuhkan sekitar 0,26 mililiter air berdasarkan metodologi perusahaan.
Bukan Penyebab Tunggal Kekeringan
Meski membutuhkan air, AI tidak bisa disebut sebagai penyebab tunggal kekeringan.
Kekeringan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari rendahnya curah hujan, perubahan iklim, kondisi hidrologis hingga penggunaan dan pengelolaan air.
Baca Juga: AI Makin Canggih, Apakah Anak Perlu Dibiasakan Menggunakannya?
Persoalannya muncul ketika pusat data dibangun di wilayah yang sumber airnya sudah terbatas.
Dalam kondisi tersebut, penggunaan air untuk pusat data dapat menambah tekanan terhadap sumber air yang juga dibutuhkan masyarakat, pertanian maupun sektor lainnya.
Karena itu, lokasi pusat data menjadi sangat penting.
Teknologi AI Bisa Dibuat Lebih Hemat Air
Konsumsi air pusat data sebenarnya masih dapat ditekan.
Perusahaan teknologi dapat menggunakan sistem pendinginan yang lebih efisien, air daur ulang, sistem closed-loop, serta memilih lokasi pusat data yang memiliki ketersediaan air lebih baik.
Efisiensi server dan penggunaan energi juga dapat membantu mengurangi jejak lingkungan dari perkembangan AI.
Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar AI menggunakan air, tetapi bagaimana industri teknologi mengelola kebutuhan air tersebut.
Jadi, Benarkah AI Menyebabkan Kekeringan?
Tidak secara langsung.
Namun, pertumbuhan AI memang berpotensi meningkatkan kebutuhan air melalui pembangunan dan pengoperasian pusat data.
Baca Juga: AI Makin Canggih, Apakah Anak Perlu Dibiasakan Menggunakannya?
Jika fasilitas tersebut berada di wilayah yang mengalami tekanan air, konsumsi air pusat data dapat memperburuk kondisi setempat.
Karena itu, seiring AI semakin berkembang, kebutuhan terhadap teknologi yang lebih hemat energi dan air juga menjadi semakin penting.
AI mungkin tidak membuat dunia langsung kekeringan, tetapi cara manusia membangun infrastruktur AI akan menentukan seberapa besar tekanan teknologi ini terhadap sumber daya air. (*)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah