RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tak terasa, Ramadan memasuki fase paling sunyi sekaligus paling bermakna: sepuluh hari terakhir. Waktu terasa berjalan lebih cepat, sementara hati justru ingin memperlambat langkah.
Ada perasaan haru yang sulit dijelaskan, antara syukur karena telah melewati hari-hari penuh ibadah, dan cemas karena Ramadan akan segera berakhir.
Di fase inilah umat Islam tidak hanya diajak untuk bertahan dalam ibadah, tetapi untuk meningkatkannya.
Sepuluh malam terakhir bukan sekadar penutup bulan suci. Ia adalah puncak perjalanan spiritual.
Sebuah ruang kontemplasi. Ruang pulang bagi jiwa yang lelah oleh rutinitas dunia.
Mencari Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Di antara sepuluh malam itu, tersimpan satu malam istimewa yang nilainya melampaui usia panjang manusia: *Lailatul Qadr*. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Qadr ayat 3:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣
“Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.”
Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Artinya, satu malam ibadah yang dilakukan dengan penuh keimanan pada malam tersebut bernilai lebih baik daripada ibadah seumur hidup tanpa kesungguhan.
Inilah kemurahan Allah yang membuka peluang luas bagi setiap hamba untuk memperbaiki diri.
Malam ini diyakini sebagai malam turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam Shahih (HR. Bukhari No. 2024 dan muslim No. 1154) disebutkan bahwa Rasulullah SAW menghidupkan sepuluh malam terakhir dengan ibadah yang lebih sungguh-sungguh dibanding malam-malam sebelumnya.
Baca Juga: Menghidupkan Malam Ramadan Tanpa Mengabaikan Kesehatan
Bahkan beliau membangunkan keluarganya agar turut meraih keberkahan malam tersebut.
Di sinilah letak ketenteraman itu, ketika dunia terlelap, lampu-lampu dipadamkan, dan suara-suara mereda, seorang hamba berdiri dalam sujudnya, berbicara langsung kepada Tuhannya.
Tidak ada jarak. Tidak ada perantara. Hanya doa yang naik dan harapan yang digantungkan sepenuhnya kepada Allah.
I’tikaf, Menepi untuk Mendekat
Salah satu amalan yang dianjurkan pada sepuluh hari terakhir adalah i’tikaf, berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah.
Namun makna i’tikaf sejatinya lebih dari sekadar berada di dalam bangunan masjid. Ia adalah upaya menepi dari hiruk pikuk dunia.
Di tengah era digital yang penuh notifikasi dan distraksi, i’tikaf menjadi simbol keberanian untuk berhenti sejenak.
Berhenti mengejar hal-hal yang fana, dan kembali menyusun ulang prioritas hidup. Dalam kesunyian itu, hati belajar jujur.
Pikiran menjadi lebih jernih. Luka-luka batin perlahan menemukan obatnya. Sering kali kita terlalu sibuk mencari ketenangan di luar diri, padahal ketenteraman justru hadir saat kita memberi ruang bagi hati untuk berdialog dengan Sang Pencipta.
Doa yang Menggetarkan Langit
Pada malam-malam istimewa itu, Rasulullah SAW mengajarkan doa sederhana untuk dibaca pada malam-malam terakhir bulan Ramadan.
Dalam Sunan Tirmidzi diriwayatkan doa yang dianjurkan dibaca pada malam Lailatul Qadr:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.”
(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.)
Baca Juga: Nuzulul Quran 2026 Jatuh 6 Maret: Ini Alasan Mengapa Malam 17 Ramadan Bisa Mengubah Hidup!
Doa ini menunjukkan inti dari seluruh pencarian manusia, ampunan dan kasih sayang Tuhan.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya mencari keberkahan rezeki, kesuksesan karier, atau kelapangan hidup. Yang paling dalam adalah kebutuhan akan ketenangan jiwa, perasaan bahwa diri ini diterima, dimaafkan, dan dicintai oleh Allah.
Ketenteraman yang Tak Tergantikan
Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah kesempatan terakhir untuk memperbaiki yang tertunda, menguatkan yang rapuh, dan memeluk kembali iman yang mungkin sempat melemah. Ia adalah momen evaluasi diri sebelum lembaran Ramadan ditutup.
Ketenteraman bukan datang dari dunia yang sempurna. Ia tidak lahir dari rekening yang penuh atau pujian manusia.
Ketenteraman tumbuh dari hati yang berserah, dari keyakinan bahwa segala yang terjadi berada dalam kendali Allah, dan bahwa setiap doa yang dipanjatkan tidak pernah sia-sia.
Maka, sebelum Ramadan benar-benar berlalu, manfaatkan malam-malam tersisa dengan sungguh-sungguh.
Perbanyak doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, dan berbagi kepada sesama. Siapa tahu, satu sujud di antara sepuluh malam ini menjadi sebab diampuninya dosa-dosa, diangkatnya kesulitan, dan ditetapkannya kebaikan hidup di masa depan.
Ramadan mungkin akan pergi. Tetapi ketenteraman yang kita temukan di dalamnya semoga menetap jauh setelah gema takbir berkumandang. (aal/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko