Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengapa Ketupat Selalu Hadir Saat Lebaran? Ini Makna Filosofinya

Hakam Alghivari • Selasa, 1 April 2025 | 21:45 WIB
ketupat adalah makanan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman janur .
ketupat adalah makanan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman janur .

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Lebaran selalu identik dengan hidangan khas yang menggugah selera, salah satunya adalah ketupat. Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman janur ini hampir selalu hadir di meja makan saat Hari Raya Idulfitri. Namun, lebih dari sekadar sajian khas, ketupat memiliki filosofi mendalam yang diwariskan secara turun-temurun, terutama dalam budaya Jawa. Setiap elemen dalam ketupat, mulai dari bahan hingga bentuknya, mengandung makna yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dan sosial.

 

Dalam budaya Jawa, ketupat sering dikaitkan dengan istilah "ngaku lepat," yang berarti mengakui kesalahan. Konsep ini diwujudkan dalam tradisi sungkeman, di mana seseorang bersimpuh dan meminta maaf kepada orang tua serta keluarga. Ketupat menjadi simbol dari permohonan maaf, dan ketika seseorang menerima serta menyantap ketupat yang disuguhkan, itu dianggap sebagai tanda terbukanya pintu maaf di antara keduanya.

Menurut sumber dari DetikJateng, ketupat mengandung makna filosofis dari tiga bahan utamanya, yaitu beras, janur kuning, dan santan. Beras melambangkan kemakmuran, mencerminkan harapan agar setelah Hari Raya, seseorang mendapatkan rezeki yang berlimpah. Janur kuning yang digunakan sebagai pembungkusnya dipercaya sebagai simbol penolak bala, melindungi dari hal-hal buruk. Sementara itu, santan dalam bahasa Jawa disebut "santen," yang berirama dengan "ngapunten" atau meminta maaf. Kombinasi ketiga bahan ini memperkuat pesan tentang pembersihan diri setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan.

 

Selain itu, bentuk ketupat yang segi empat memiliki filosofi yang lebih mendalam. Dilansir dari Sijori.id, bentuk ini menggambarkan prinsip "kiblat papat lima pancer," yang dalam kepercayaan Jawa melambangkan empat macam nafsu manusia: nafsu emosional, nafsu serakah, nafsu estetika (keinginan akan keindahan), dan nafsu yang terlalu mengutamakan kebajikan. Keempat nafsu ini diyakini dapat dikendalikan dengan "lima pancer," yang merujuk pada ibadah puasa sebagai bentuk pengendalian diri dan kembali kepada Tuhan.

Ketupat juga mencerminkan konsep pembersihan jiwa. Janur yang digunakan untuk membungkus ketupat sering dimaknai sebagai "sejatine nur" atau cahaya sejati, yang melambangkan kesucian hati setelah menjalani Ramadan. Saat ketupat dibuka, nasi putih di dalamnya melambangkan hati yang bersih dan kembali suci setelah memohon ampunan kepada Tuhan.

 

Dengan berbagai makna yang terkandung di dalamnya, ketupat bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol spiritual yang mengingatkan manusia akan pentingnya introspeksi, pengendalian diri, dan saling memaafkan. Oleh karena itu, menikmati ketupat di Hari Raya bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga menghayati nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh leluhur. (oss/mgg)

 

Editor : Hakam Alghivari
#makanan idul fitri #makna ketupat #Filosofis #Lebaran