RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Syekh Nawawi al-Bantani, dalam kitab Nihâyatuz Zain fi Irsyâdil Mubtadiîn, menjelaskan bahwa salah satu keutamaan puasa di bulan Syaban adalah mendapatkan syafaat dari Rasulullah saw pada hari kiamat.
Rasulullah sangat mencintai ibadah puasa di bulan Syaban, karena bulan ini merupakan waktu yang dimuliakan oleh Allah.
Bulan Syaban seringkali terlupakan, karena posisinya yang berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Meski begitu, Syaban memiliki keistimewaan tersendiri, sebagaimana dijelaskan dalam artikel Tata Cara Puasa Sya'ban: Hukum, Hikmah, Keutamaan, dan Niat oleh Ustadz Ahmad Muntaha AM di NU Online. Salah satu cara untuk memuliakan bulan Syaban adalah dengan melakukan puasa, sebagai bentuk persiapan menjelang Ramadhan.
Syaban juga merupakan bulan dimana amal tahunan umat manusia dilaporkan kepada Allah. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk berpuasa di bulan ini, agar laporan amal kita dalam keadaan baik. Rasulullah saw memiliki kebiasaan berpuasa di bulan Syaban, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah. Hal ini turut menjadi landasan bagi Syekh Nawawi al-Bantani untuk menganjurkan puasa di bulan Syaban, berdasarkan hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad saw, seperti yang tertulis dalam kitab Nihâyatuz Zain fi Irsyâdil Mubtadiîn.
Syekh Nawawi juga menyebutkan bahwa puasa sunnah yang keduabelas adalah puasa Syaban, yang dilaksanakan karena kecintaan Rasulullah saw terhadap bulan ini. Barang siapa yang berpuasa di bulan Syaban, maka ia akan memperoleh syafaat dari Rasulullah di hari kiamat.
Senada dengan Syekh Nawawi, ulama besar Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab al-Fatâwal Kubral Fiqhiyyah juga menganjurkan umat Muslim untuk berpuasa di bulan Syaban, sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad. Namun, Ibnu Hajar tidak menyarankan puasa sepanjang bulan Syaban. Ia lebih menganjurkan puasa di separuh awal bulan Syaban, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang mengingatkan agar tidak berpuasa di separuh kedua bulan Syaban.
Rasulullah saw sendiri tidak melakukan puasa satu bulan penuh di Syaban, agar umatnya tidak salah paham dengan menganggap bahwa puasa bulan Syaban adalah wajib. Puasa di bulan Syaban tetap berada pada derajat sunnah.
Tata Cara Puasa Syaban
Berikut adalah langkah-langkah teknis dalam melaksanakan puasa Syaban:
1. Niat Puasa
Niat puasa dapat dilakukan dengan mengucapkan niat di hati. Salah satu niat yang disarankan adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
"Nawaitu shauma sya’bâna lilâhi ta’âlâ."
Artinya: "Saya niat puasa Sya'ban karena Allah Ta'ala."
Niat puasa Syaban bisa dilakukan sejak malam hari hingga siang, sebelum waktu zawal atau matahari tergelincir ke barat, dengan syarat tidak ada hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
2. Makan Sahur
Disarankan untuk makan sahur menjelang waktu subuh, sebelum waktu imsak.
3. Melaksanakan Puasa
Selama berpuasa, kita harus menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan lainnya.
4. Menjaga Pahala Puasa
Selain menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, kita juga harus menjaga lisan dan perbuatan agar tidak mengurangi pahala puasa, seperti berkata kasar, menggunjing, dan melakukan dosa lainnya.
5. Berbuka Puasa
Segeralah berbuka puasa begitu waktu Maghrib tiba.
Dengan mengikuti tata cara ini, diharapkan puasa Syaban kita dapat diterima dan mendatangkan keberkahan serta syafaat dari Rasulullah saw pada hari kiamat kelak.
(kam)
Editor : Hakam Alghivari