RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Keberadaan sportcaster atau komentator pertandingan olahraga di Bojonegoro masih terbilang minim. Tidak banyak pembawa acara atau penyiar yang memiliki kemampuan khusus untuk menghidupkan jalannya pertandingan melalui live commentary.
Padahal, menjadi sportcaster tidak cukup hanya bermodal kemampuan berbicara. Seorang sportcaster dituntut memahami regulasi atau aturan pertandingan hingga profil pemain dan tim yang berlaga. Pengetahuan tersebut penting agar informasi yang disampaikan kepada penonton tetap akurat.
Salah satu sportcaster Bojonegoro, Haniv Azhar, mengatakan profesi tersebut masih jarang ditekuni secara profesional di Bojonegoro. Terutama mereka yang benar-benar menguasai laws of the game (LOTG) serta memiliki wawasan luas mengenai olahraga.
“Di sini masih banyak penyiar,” ungkapnya.
Menurut Haniv, terdapat perbedaan mendasar antara sportcaster dan pembawa acara atau penyiar. Seorang sportcaster harus memiliki lebih banyak kosakata olahraga dan melakukan riset sebelum pertandingan.
Riset tersebut mencakup informasi mengenai tim yang bertanding, latar belakang klub, hingga profil dan riwayat pemain. Bekal tersebut diperlukan agar komentator mampu memberikan informasi yang relevan selama pertandingan berlangsung.
Haniv menjelaskan, untuk menjadi sportcaster, seseorang terlebih dahulu harus menguasai cabang olahraga yang akan dibawakan. Setelah itu, kemampuan berbicara perlu terus dilatih, mulai dari artikulasi, intonasi, hingga tempo berbicara.
“Latihan live commentary, putar ulang pertandingan bola atau futsal,” jelasnya.
Tantangan lainnya adalah mengikuti perkembangan regulasi pertandingan. Menurut Haniv, laws of the game (LOTG) dapat mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Karena itu, seorang sportcaster harus selalu memperbarui pengetahuannya.
“Jangan sampai salah memberikan informasi kepada pemirsa ketika terjadi pelanggaran atau ada peraturan baru yang berbeda dari sebelumnya,” tegasnya. (irv/zim)