RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tiga pemain Timnas Belanda, Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville, menjadi sasaran serangan rasis di media sosial setelah gagal mengeksekusi penalti pada laga melawan Maroko di babak 32 besar, Selasa (30/7) dini hari. Sekaligus mengakhiri langkah De Oranje di Piala Dunia 2026.
Menyikapi perlakuan tersebut, Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) resmi melaporkan kasus itu kepada lembaga yang menangani diskriminasi daring untuk diproses secara hukum.
Ketiga pemain menerima gelombang komentar bernada rasis di akun Instagram pribadi mereka. Bahkan, sejumlah akun melontarkan penghinaan bernuansa diskriminatif hingga membandingkan para pemain dengan monyet.
Akibat serangan tersebut, Justin Kluivert dan Crysencio Summerville memilih menonaktifkan kolom komentar di akun Instagram mereka. Sementara itu, puluhan komentar bernada rasis masih terlihat di unggahan milik Quinten Timber.
KNVB: Tidak Ada Tempat bagi Rasisme
KNVB mengecam keras tindakan tersebut dan menegaskan bahwa rasisme tidak boleh mendapat ruang, baik di dunia sepak bola maupun kehidupan bermasyarakat.
"Kami menganggap ini sangat mengerikan. Kami melihat reaksi di internet di mana para pemain diperlakukan secara rasis dan diskriminatif setelah tim tersingkir. Di sinilah kami menarik garis yang sangat jelas. Rasisme dan diskriminasi tidak memiliki tempat di mana pun, baik di sepak bola, di internet, maupun di masyarakat," tulis KNVB via media sosial.
Federasi Belanda juga memastikan telah menyerahkan laporan kepada Meld.Online Discriminatie, lembaga independen yang menangani pengaduan diskriminasi di internet.
Komentar Akan Diperiksa Satu per Satu
Menurut laporan Marca, lembaga tersebut telah menerima puluhan laporan terkait komentar rasis yang menyerang tiga pemain Belanda. Jumlah pengaduan diperkirakan masih akan terus bertambah.
Setiap laporan akan dianalisis berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda untuk menentukan apakah komentar tersebut mengandung unsur tindak pidana.
"Pertama kami memeriksa tingkat keseriusan setiap komentar. Jika kami menemukan pesan yang berdampak sangat serius, kami dapat langsung mengajukan laporan kepada kepolisian," ujar pihak Meld.Online Discriminatie.
Untuk komentar lain yang diduga melanggar hukum, lembaga tersebut akan lebih dulu meminta platform media sosial menghapus konten tersebut. Jika permintaan tidak direspons, mereka dapat mengajukan permintaan hingga tiga kali sebelum membawa kasus itu ke kepolisian.
Menteri Olahraga Ikut Mengecam
Kasus ini juga mendapat perhatian dari pemerintah Belanda. Menteri Olahraga Belanda, Mirjam Sterk, menyebut gelombang komentar diskriminatif yang menyerang para pemain sebagai tindakan yang "sangat disayangkan".
KNVB sendiri selama beberapa tahun terakhir aktif mengampanyekan gerakan antirasisme di sepak bola. Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026, federasi bahkan merilis kampanye khusus yang dibintangi legenda Belanda, Ruud Gullit, untuk mengajak publik melawan ujaran kebencian di media sosial.
Baca Juga: Petar Sucic Takjub, Sebut Luka Modric Bermain Seperti Pemain Berusia 20 Tahun
Mengingatkan pada Euro 2020
Insiden yang menimpa Kluivert, Timber, dan Summerville mengingatkan pada kasus serupa setelah final Euro 2020. Saat itu, tiga pemain Inggris, Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka, menjadi sasaran hujatan rasis setelah gagal mengeksekusi penalti dalam kekalahan dari Italia.
Kasus tersebut berujung pada penyelidikan kepolisian Inggris terhadap ratusan unggahan bermuatan kebencian dan penangkapan sejumlah pelaku. Peristiwa itu juga memicu gelombang dukungan dari suporter, tokoh publik, hingga pemerintah Inggris sebagai bentuk solidaritas terhadap para pemain yang menjadi korban rasisme. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari