Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Piala Dunia 2026: 16 Tahun Setelah Tarian Tshabalala, Meksiko Akhirnya Membalas di Panggung yang Sama

Hakam Alghivari • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:59 WIB
Ikonik: Tarian pemain Afrika Selatan di piala dunia edisi 2010 dibalas tarian yang sama oleh Meksiko di piala dunia edisi 2026. (INSTAGRAM)
Ikonik: Tarian pemain Afrika Selatan di piala dunia edisi 2010 dibalas tarian yang sama oleh Meksiko di piala dunia edisi 2026. (INSTAGRAM)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pada 11 Juni 2010, dunia sepak bola berhenti sejenak untuk menyaksikan sebuah momen yang kemudian menjadi bagian dari sejarah Piala Dunia. Di Soccer City, Johannesburg, Siphiwe Tshabalala melepaskan tendangan keras yang menghujam gawang Meksiko sebelum merayakannya dengan tarian khas Afrika Selatan bersama rekan-rekannya.

Gol itu bukan sekadar gol pembuka Piala Dunia 2010. Itu adalah simbol kebanggaan tuan rumah yang untuk pertama kalinya membawa turnamen terbesar sepak bola ke Benua Afrika. Enam belas tahun kemudian, sejarah mempertemukan kedua negara di tempat yang sama dalam narasi yang berbeda. Kali ini, Meksiko yang menjadi tuan rumah dan Meksiko pula yang tersenyum di akhir pertandingan.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Korea Selatan Tundukkan Ceko 2-1, Taeguk Warriors Dominasi Permainan Berbuah Comeback

Piala Dunia 2026 dibuka dengan laga yang mengingatkan publik pada malam bersejarah di Johannesburg. Meksiko kembali menghadapi Afrika Selatan dalam pertandingan pembuka turnamen. Bedanya, kali ini duel berlangsung di Stadion Azteca, Mexico City, dan El Tri berhasil menang 2-0 melalui gol Julián Quiñones dan Raúl Jiménez.

Namun, yang membuat pertandingan ini terasa lebih istimewa bukan hanya kemenangan Meksiko.

Saat Julián Quiñones mencetak gol pertama Piala Dunia 2026 pada menit kesembilan, ia memilih sebuah selebrasi yang langsung menghidupkan kembali memori jutaan penggemar sepak bola. Penyerang Meksiko itu menirukan tarian ikonik yang dilakukan Tshabalala 16 tahun sebelumnya setelah membobol gawang Meksiko pada laga pembuka Piala Dunia 2010.

Baca Juga: Mengenal Kota dan Stadion Piala Dunia 2026: Estadio Azteca, Pembuka Tirai Piala Dunia dan Rumah Meksiko

Bagi banyak orang, selebrasi tersebut terlihat seperti penghormatan terhadap salah satu momen paling berkesan dalam sejarah turnamen. Namun dalam konteks yang lebih luas, tarian itu juga menjadi simbol bagaimana sejarah berputar.

Pada 2010, Afrika Selatan mencuri panggung dunia melalui gol dan tarian Tshabalala. Meksiko hanya menjadi penonton dalam perayaan yang dikenang hingga hari ini.

Pada 2026, Meksiko mengambil kembali panggung tersebut.

Tidak hanya menang, Meksiko juga mencatat sejarah baru dengan meraih kemenangan pertama mereka dalam laga pembuka Piala Dunia setelah bertahun-tahun gagal memulai turnamen dengan hasil maksimal. Kemenangan itu disambut meriah puluhan ribu pendukung yang memadati Stadion Azteca.

Uniknya, semuanya terjadi melawan lawan yang sama.

Afrika Selatan datang ke Mexico City dengan membawa kenangan manis dari Johannesburg. Namun kali ini Bafana Bafana harus legowo dengan kekalahan. Meksiko tampil dominan sejak awal pertandingan, memanfaatkan kesalahan lawan untuk membuka keunggulan sebelum memastikan kemenangan melalui gol kedua Raúl Jiménez. 

Di media sosial dan forum sepak bola, banyak penggemar langsung menghubungkan selebrasi Quiñones dengan momen Tshabalala pada 2010. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai "balas dendam yang tertunda selama 16 tahun", mengingat kedua negara kembali dipertemukan dalam laga pembuka Piala Dunia.

Baca Juga: Ternyata Ada Banyak Pasangan Kakak Beradik di Piala Dunia 2026! Berikut Daftarnya, Sebagian Pilih Bela Beda Negara

Tentu sepak bola tidak pernah benar-benar tentang balas dendam. Namun olahraga ini sering menghadirkan kisah yang terlalu sempurna untuk dianggap kebetulan.

Dua negara yang sama.

Laga pembuka yang sama.

Gol pertama turnamen yang sama-sama bersejarah.

Dan sebuah tarian yang kembali muncul setelah 16 tahun.

Jika pada 2010 dunia mengenang Siphiwe Tshabalala sebagai wajah pembuka Piala Dunia Afrika, maka pada 2026 Julián Quiñones memastikan bahwa kenangan itu hidup kembali, kali ini dengan warna hijau, putih, dan merah milik Meksiko. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
#memori #Ikonik #piala dunia 2026 #meksiko #afrika selatan