RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sepak bola merupakan sa;ah satu cabang olahraga yang memiliki peraturan dasar yang jelas dan mutlak, namun masih memiliki banyak celah yang dapat dimanfaatkan saat pertandingan berlangsung. Sehingga perubahan peraturan mendetil oleh Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) merupakan pemandangan yang umum terjadi setahun sekali, misal mengenai urusan ooffisde yang tak kunjung usai.
Menjelang gelaran Piala Dunia 2026, IFAB mengumumkan sejumlah peraturan baru yang telah diujikan sejak Minggu (31/5). Berbagai peraturan ini berupaya menekan time-wasting, atau taktik buang-buang waktu oleh para pemain, dan resmi diterapkan mulai Piala Dunia mendatang.
“IFAB telah menyetujui beberapa perubahan dalam peraturan bertanding (Laws of The Game), dan Piala Dunia 2026 bakal menjadi ajang pertama yang memperkenalkan pertandingan tersebut. Seluruh peraturan tersebut berupaya mencegah diskriminasi dan buang-buang waktu, mempercepat pertandingan, serta memberikan pertandingan yang lebih baik untuk penonton,” jelas Ketua Komite Wasit FIFA, Pierlugi Collina pada Senin (1/6) sebagaimana dikutip dari Reuters dan BBC.
Salah satu yang paling mencolok, IFAB meluaskan berbagai peraturan batas waktu atau hitung mundur ke berbagai aspek lain. Jika sebelumnya peraturan ini hanya berlaku untuk goal kick atau tendangan gawang, kini hitung mundur juga diterapkan untuk lemparan ke dalam (throw-in) dan pergantian pemain.
Baca Juga: Kiper Dilarang Molor! IFAB Larang Kiper Memegang Bola Terlalu Lama, Risiko Tendangan Pojok Gratis
Sebelumnya, pergantian pemain dapat dilakukan dengan relatif santai dan hanya berbuah teguran dari wasit utama dan ofisial ke-empat (yang memegang papan pergantian pemain) jika berlangsung terlalu lama. Mulai Piala Dunia nanti, seluruh pemain yang diganti hanya punya waktu 10 detik untuk keluar dari lapangan dari pinggir manapun, kecuali jika menderita cedera.
Jika pemain yang digantikan terlambat keluar dari lapangan, maka pemain penggantinya dilarang masuk ke dalam pertandingan sebelum pertandingan kembali berhenti, atau dengan kata lain sebelum peluit berikutnya berbunyi, misal karena pelanggaran atau bola keluar lapangan. Kurang lebih dampak peraturan ini mirip kartu merah, namun hanya bersifat sementara hingga pemain pengganti dibolehkan masuk lapangan.
Peraturan ini telah diuji pada laga persahabatan antara Islandia melawan Jepang pada Senin dinihari, dan Islandia resmi menjadi ‘korban’ pertama peraturan tersebut. Isak Thorvaldsson sempat dilarang masuk sebagai pemain pengganti karena rekan yang digantikannya, Kristian Hlynsson terlalu lama keluar lapangan.
Kemudian, wasit akan memberi batas waktu sebanyak lima detik bagi pemain untuk memulai tendangan gawang dan lemparan ke dalam, dihitung sejak peluit dibunyikan dan dihitung dengan jari. Jika pemain tidak segera melakukan gerakan melempar bola ke dalam lapangan, maka kesempatan lemparan ke dalam akan diberikan ke pihak lawan.
Sebelumnya, terlambat melakukan tendangan gawang akan hanya diberi teguran dari wasit, atau kartu kuning jika disengaja. Dalam peraturan terbaru, jika kiper tidak segera menendang bola setelah lima detik, maka lawan akan diberi kesempatan melakukan tendangan pojok.
Selain ketiga aturan tersebut, dua aturan lain juga ditambahkan menyusul berbagai kejadian dan kontroversi yang terjadi sepanjang musim 2025/2026. Yakni saat gelaran UEFA Champions League (UCL) serta final Piala Afrika.
Aturan pertama berkaitan dengan insiden saat Real Madrid berhadapan dengan Benfica di UCL, ketika Gianluca Prestianni diduga melempar ujaran rasis kepada Vinicius Jr. sambil menutup mulutnya agar tidak ketahuan. Akibat perbuatan tersebut dan kerusuhan yang terjadi setelahnya, kala itu Prestianni dihukum larangan enam pertandingan.
Dalam peraturan terbaru IFAB, perbuatan menutup mulut dalam keadaan protes, pertengkaran atau kerusuhan sebagaimana dilakukan Prestianni akan berbuah kartu merah bagi pemain tersebut. “Namun menutup mulut saat berbincang biasa atau ngobrol santai dengan lawan masih diperkenankan,” tambah Collina.
Aturan kedua berkaitan dengan babak final Piala Afrika 2025, setelah Senegal melancarkan protes atas keputusan wasit yang memberikan penalti untuk Maroko. Kala itu, seluruh pemain dan staf kepelatihan Senegal mangkir ke kamar ganti selama seperempat jam, sebelum kemudian mau melanjutkan pertandingan.
Mulai Piala Dunia mendatang, pemain dan staf individu yang memprotes keputusan wasit dengan meninggalkan lapangan akan otomatis dihadiahi kartu merah, termasuk jika staf mengajak pemain keluar dari pertandingan. Kemudian jika seluruh tim melakukan protes dengan meninggalkan pertandingan sebagaimana dilakukan oleh Senegal, tim tersebut akan langsung dinyatakan kalah walk-out (WO).
Selanjutnya, ada pula peraturan baru yang mengatur mengenai kehadiran tim medis di lapangan. Yakni setelah menerima pengobatan dan dapat beraksi kembali, pemain yang ditangani oleh tim medis harus keluar dari lapangan minimal satu menit sebelum kembali bertanding. Namun ada tiga pengecualian yang berlaku untuk peraturan ini.
Pertama adalah jika pemain yang ditangani adalah kiper. Kedua, jika pemain menderita cedera, benturan atau luka di bagian kepala, termasuk gegar otak. Ketiga, jika pemain yang ditangani juga ditunjuk sebagai algojo penalti.
Berkaitan dengan peraturan tersebut, jika tim medis sedang menangani cedera yang dialami kiper, semua pemain yang berada di lapangan tidak boleh keluar dari lapangan, termasuk untuk berdiskusi dengan pelatih.
“Kiper tentu bisa dan boleh cedera, namun seluruh pemain seyogyanya tidak memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan diskusi taktik dengan pelatih. Saat ini belum ada solusi konkrit yang dapat diterapkan untuk mengatasi hal tersebut, jadi untuk saat ini kami bergantung pada nurani pemain,” jelas Collina.
Akhirnya, ada satu aturan VAR serta satu aturan khusus Piala Dunia yang ikut ditetapkan oleh IFAB. Yang pertama, jeda minum yang diterapkan sejak Piala Dunia 2022 kini diperpanjang menjadi tiga menit, dan wasit memiliki keleluasaan untuk menetapkan kapan jeda minum dimulai.
Kemudian, wasit atau pengawas sistem VAR kini dapat memeriksa dan memanggil wasit untuk kejadian berikut:
- Kartu merah atau kartu kuning kedua, termasuk memberikan kartu kepada pemain yang salah.
- Tendangan pojok dan penyebabnya, namun hanya sebelum tendangan pojok dilakukan.
- Pelanggaran yang terjadi sebelum bola ditendang dalam keadaan bola mati, serta keputusan jika tendangan perlu diulang.
(edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana