RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dua pembalap reli dan off-road asal Indonesia, Julian Johan dan Shammie Baridwan layak berbangga saat kembali ke tanah air dari Arab Saudi nanti. Pada Sabtu (17/1), keduanya sama-sama berhasil mencatatkan sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang berhasil meneylesaikan balap reli paling sulit di dunia, yakni Reli Dakar.
Shammie bahkan mencatatkan satu sejarah yang tak kalah membanggakan lagi. Dirinya sukses membawa pulang medali Dakar Classic sebagai pemenang stage Dakar pertama asal Indonesia.
Memang keduanya bukan pembalap Indonesia pertama yang ikut serta di Reli Dakar, karena sebelumnya sudah ada Tinton Soeprapto yang ikut serta pada edisi 1988, serta Kasih Anggoro yang ikut serta pada 2010 dan 2011. Namun, keduanya gagal menyelesaikan lomba dalam partisipasi mereka, bahkan perjalanan Kasih langsung terhenti di hari pertama kompetisi pada edisi 2011.
Shammie dan Julian sama-sama bertarung di kategori Dakar Classic, yang sesuai namanya menampilkan mobil, sepeda motor dan truk klasik dalam kompetisi yang sama dengan gelaran utama Reli Dakar, plus Mission 1000 untuk kendaraan ramah lingkungan.
Keduanya juga bergabung dengan tim yang sama, yakni Compagnie Sharienne asal Perancis, dan sama-sama menaiki Toyota Land Cruiser. Bedanya, mobil milik Shammie lebih tua ketimbang kawannya, yang akrab dikenal sebagai Jeje di kalangan pegiat motorsport Indonesia.
Berbeda dengan kompetisi utama dan Mission 1000 yang berformat cross country, Dakar Classic menggunakan format reli wisata, namun selebihnya menempuh rute yang sama dengan semua peserta. Shammie berhasil merebut kemenangan di Stage 11, yang menghubungkan kota Bisha di Provinsi Asir dengan kota Al-Henakiyah di Provinsi Madinah.
Sebagai catatan samping, Reli Dakar sudah cukup lama tidak digelar di benua Afrika usai serangan teror dari kelompok Al-Qaeda jelang edisi 2008, yang membuat gelaran tahun tersebut dibatalkan. Sejak 2009 Reli Dakar digelar di Amerika Selatan, tepatnya lintas negara Peru, Chile dan Bolivia. Dan sejak 2020, balapan tersebut berpindah lagi ke Arab Saudi.
Usai memenangkan Stage 11 pada kamis (15/1), Shammie mengaku bahwa Jeje yang mengajaknya ikut serta menaklukkan padang pasir Arab Saudi, dan menghubungkannya dengan Compagnie Saharienne. “Memang saya yang menang, namun tetap Jeje yang berjasa membawa saya ke sini, dengan satu tujuan sama yakni finish dan menyelesaikan Dakar. Bolehlah saya dan Jeje berbeda mobil, namun kami tetap kompak satu tim atas nama Indonesia,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman resmi Dakar.
Sebagaimana telah disebutkan, selain menyediakan mobil, Compagnie Saharienne juga menyediakan co-driver atau navigator untuk Shammie dan Jeje. Shammie ditemani oleh co-driver asal Lithuania, Ignas Daunoravicius, sementara Jeje ditemani oleh co-driver asal Perancis, Mathieu Monplaisir.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan sejak 3 Januari silam, Shammie dan Jeje bersama-sama sampai ke tempat start/finish di kota Yanbu, Provinsi Madinah, tepat di dekat Laut Merah pada Sabtu siang. Pria yang juga terkenal sebagai YouTuber tersebut bersyukur dapat menyelesaikan lomba tanpa banyak halangan, dan mewujudkan mimpi bersama sejak kecil.
“Alhamdulillah, saya dapat finish di Dakar, sebuah kejuaraan yang menjadi mimpi saya sejak kecil. Tidak hanya itu, saya masih mendapat nikmat dapat diberi kesempatan finish dengan hasil yang baik,” ujar Jeje sambil menahan air mata melalui media sosial pribadinya.
Berkat performa konsisten sejak awal perlombaan, Jeje dapat finish di peringkat ke-5 Dakar Classic, serta memenangkan subkategori Iconic. Sementara itu, meskipun meraih kemenangan di Stage 11, Shammie finish di peringkat ke-7 akibat sempat tertinggal agak jauh sebelum periode peristirahatan di kota Riyadh, serta saat menempuh Stage 12 dari Al-Henakiyah ke Yanbu.
Sementara itu di perlombaan utama Reli Dakar, persaingan sepanjang dua minggu berjalan super ketat, dengan berbagai pembalap saling bergantian memuncaki puncak klasemen hingga Sabtu siang. Terlebih, Reli Dakar kini dihitung sebagai bagian dari kejuaraan rally raid dunia, alias W2RC.
Di kategori mobil, pembalap veteran Qatar Nasser Al-Attiyah sukses menambah koleksi trofi Dakarnya, plus menyumbang trofi Dakar pertama untuk Dacia Sandriders setelah memanfaatkan tabungan waktunya sejak Stage 12. Nasser juga terbantu oleh para kru Ford Racing yang harus kerja kelompok memperbaiki mobil milik Nani Roma, yang akhirnya dapat finish di belakang Nasser.
Sementara di kategori motor persaingan bahkan lebih menegangkan lagi. Meskipun sudah memiliki tabungan waktu dari Stage 12, Ricky Brabec malah tersesat di tujuh kilometer terakhir perlombaan. Ricky tersesat cukup lama hingga Luciano Benavides dapat menyalipnya di saat-saat terakhir, dengan keunggulan hanya dua detik saat keduanya tiba di Yanbu. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana