RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Baru memasuki hari pembuka pada Senin (5/1), Liga 4 Jawa Timur diwarnai dengan insiden kerusuhan. Aksi kekerasan kembali terjadi dalam divisi sepak bola region Jawa Timur tersebut.
Dalam pertandingan babak 32 besar Grup CC Liga 4 Jatim antara Perseta 1970 Tulungagung melawan PS Putra Jaya Pasuruan, salah satu pemain Putra Jaya, Hilmi Gimnastiar mencoba merebut bola dari pemain bertahan Peseta 1970, Firman Nugraha. Masalahnya, Hilmi mencoba merebut bola dengan cara menendang Firman di bagian dada, alih-alih merebut bola dari kaki Firman.
Alhasil kerusuhan terjadi antara kedua kubu kesebelasan, dan Hilmi langsung diusir dengan kartu merah. Firman sendiri mengaku tidak apa-apa, namun dari rekaman media sosial yang beredar, luka yang dideritanya dari tendangan Hilmi cukup dalam.
“Dada saya masih sakit, masih nyeri. Yang bersangkutan juga sudah minta maaf, tapi nampak tidak ada itikad baik,” jelas Firman sambil menunjukkan lukanya ketika dihampiri oleh media usai pertandingan di Stadion Gelora Bangkalan, Pasuruan tersebut.
Pihak Perseta 1970 juga mengkonfirmasi bahwa Firman mengalami retak tulang rusuk akibat tendangan tersebut, namun selebihnya dalam keadaan baik dan bakal diistirahatkan. “Alhamdulillah kondisi pemain kita Firman Nugraha sudah berangsur membaik. Terkait sanksi kita serahkan kepada Komdis PSSI,” bunyi pernyataan resmi klub pada Selasa (6/1).
Sementara itu, pada Selasa pagi PS Putra Jaya resmi mengeluarkan Hilmi dari roster pemain mereka. Selain itu, mereka juga secara resmi meminta maaf kepada Firman dan Perseta 1970.
Baca Juga: Alasan Ruben Amorim Tinggalkan Manchester United, Berselisih dengan Petinggi Klub
“Kami memutuskan melakukan pemberhentian kerja pada Hilmi karena tindakan yang tidak sesuai dengan asas fair play, dan menyalahi koridor aturan sepak bola dengan bertindak kasar pada lawan. Kami juga meminta maaf pada semua pihak, khususnya Perseta 1970,” jelas Ketua Harian PS Putra Jaya, Gaung Andaka Purbangkara dalam pernyataan resmi klub.
Selebihnya, sama dengan Perseta 1970, Gaung dan PS Putra Jaya juga masih menunggu hasil putusan Komdis PSSI. “Sidang dilaksanakan pada siang hari ini (Selasa),” papar pria yang juga anggota DPRD Kota Pasuruan tersebut.
Komdis PSSI juga turut angkat bicara tentang insiden tersebut. Terlebih tindakan yang dialkukan Hilmi mengancam keselamatan Firman sebagai pemain sepak bola, dan sudah menjadi kewajiban semau cabang olahraga untuk menjaga keselamatan pemain.
"Isu tentang keselamatan atlet ini tidak hanya monopoli keluarga sepak bola. Jadi semua olahraga itu harus menjamin keselamatan atletnya," jelas Ketua Komdis PSSI, Umar Husein pada Selasa sebagaimana dikutip dari Jawa Pos.
Umar juga mengingatkan kembali mengenai wewenang komite disiplin dan panitia pelaksana atas jalannya pertandingan dalam insiden serupa, sesuai UU Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN, yakni UU Nomor 11 Tahun 2022) yang juga dimuat dalam Kode Disiplin PSSI. “Pertandingan bisa ditunda, bisa dibatalkan, bisa ditutup kalau mengancam keselamatan atlet dan pihak-pihak yang terlibat,” tambahnya.
Sehingga Umar mendorong pada komite disiplin, termasuk di tingkat daerah agar tidak ragu memberikan sanksi tegas dalam kasus ini dan kasus serupa lainnya. Umar kembali menekankan tidak harus mengacu pada Kode Disiplin PSSI, dan dapat mengacu pada UU SKN dalam memberikan putusan.
“Kami mengimbau kepada teman-teman yang menjadi Panitia Disiplin atau berperan sebagai Komite Disiplin di semua tingkatan liga untuk tidak ragu-ragu menghukum pihak-pihak yang melakukan pelanggaran-pelanggaran yang keras atau brutal, sehingga tidak mengganggu jalannya kompetisi,” seru Umar, yang secara pribadi berpendapat hukuman seumur hidup dapat dijatuhkan pada Hilmi.
Pun demikian PS Putra Jaya tidak dapat berbuat apa-apa dalam pertandingan tersebut. Saat pelanggaran terjadi mereka sudah tertinggal dengan skor 0-4, dan akhirnya pertandingan berakhir dengan skor 2-7 untuk Perseta 1970. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana