RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Menjelang duel panas Liga Champions antara Real Madrid dan Juventus, ruang ganti Los Blancos kembali jadi sorotan. Bukan karena cedera pemain atau taktik baru, melainkan keputusan besar Xabi Alonso: apakah Franco Mastantuono benar-benar akan diparkir?
Mastantuono datang ke Madrid sebagai proyek jangka panjang, bahkan disebut sebagai permata Argentina berikutnya setelah penampilannya memukau di awal musim. Dengan usia baru 18 tahun, ia langsung menembus tim utama dan menjadi bagian penting dalam serangan Madrid.
Namun, laporan dari El Nacional mengindikasikan adanya masalah serius di balik performa impresif itu. Xabi Alonso disebut sudah kehilangan kesabaran atas perilaku Mastantuono yang dianggap tidak sesuai dengan standar kedisiplinan Real Madrid.
“Xabi Alonso sudah berkata cukup. Ia tidak akan memberi satu tindakan indisipliner lagi. Mastantuono tidak akan bermain melawan Juventus maupun Barcelona,” tulis El Nacional.
Masalah yang disebut bukan soal kualitas atau kebugaran, tetapi komitmen tanpa bola. Mastantuono disebut kerap pasif saat tim kehilangan penguasaan bola dan enggan membantu menutup ruang di sisi sayap.
“Masalahnya bukan pada apa yang ia lakukan dengan bola, tapi apa yang ia tidak lakukan saat tanpa bola,” tulis laporan tersebut.
Statistik yang Unggul, Tapi Tak Seimbang
Menariknya, data performa Mastantuono musim ini justru memperlihatkan kontras mencolok antara kreativitas dan kontribusi bertahan.
Dalam delapan laga LaLiga 2025/2026, ia mencatat:
-
1 gol, 0 assist,
-
460 menit bermain (6 kali starter),
-
Rating rata-rata 6.96.
Dari sisi karakter permainan, ia menempati 100% untuk shot attempts serta atribut lain yang digunakan menyerang, 96% touches, dan 94% chances created di antara gelandang serang lainnya menunjukkan betapa dominannya ia dalam fase menyerang.
Namun, di sisi lain, kontribusi defensifnya hanya 43%, hal ini menjadi indikasi jelas mengapa Xabi Alonso menilai keseimbangan tim terganggu.
Inilah yang membuat keputusan Xabi tampak lebih logis, bukan karena menolak talenta, tetapi karena menegakkan prinsip kolektif.
Xabi Alonso Tak Mau Menegosiasikan Intensitas
Sejak awal, Alonso memang dikenal perfeksionis dalam hal pressing dan intensitas. Ia menginginkan semua pemain, bahkan bintang muda seperti Mastantuono ikut menekan dan bertahan dengan agresif.
Kabar yang sama menyebut Alonso sudah mencoba berbagai pendekatan: diskusi personal, evaluasi video, hingga latihan spesifik. Namun hasilnya belum memuaskan.
“Di Real Madrid tidak ada ruang untuk relaksasi, bahkan bagi mereka yang menganggap diri tak tersentuh,” tulis El Nacional menegaskan.
Situasi ini membuka peluang bagi Arda Güler dan Brahim Díaz. Keduanya dikenal lebih patuh secara taktik dan memiliki mobilitas tinggi dalam sistem tekanan yang diinginkan Alonso. Jika keduanya tampil solid, posisi Mastantuono bisa semakin terancam di sisa musim.
Ujian Kedewasaan bagi Sang Bintang Muda
Bagi Real Madrid, keputusan ini juga menjadi pesan moral: tak ada pemain yang lebih besar dari tim. Meski begitu, bagi Mastantuono sendiri ini bisa menjadi momen refleksi penting. apakah ia siap beradaptasi dengan tuntutan intensitas era Xabi Alonso, atau justru kehilangan tempatnya di skuat utama.
Duel kontra Juventus nanti tak hanya menentukan langkah Madrid di Liga Champions, tapi juga menjadi panggung ujian kedewasaan bagi Franco Mastantuono. Dan di Santiago Bernabéu, hanya satu aturan yang berlaku: siapa yang tidak berlari, tidak bermain. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari