RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sorotan tajam kepada Lamine Yamal tentang kehidupannya yang menuai kontroversi dapat pembelaan dan Kylian Mbappe, bintang dari Real Madrid.
Ketika sorotan publik semakin tajam mengarah ke Lamine Yamal, bukan karena gol atau assist-nya, melainkan kehidupan pribadinya yang penuh kontroversi, justru suara pembela datang dari sosok yang kerap disebut rivalnya di lapangan, Kylian Mbappe.
Bintang Real Madrid itu tampil sebagai figur dewasa yang menempatkan empati di atas persaingan, meminta dunia sepak bola untuk berhenti menghakimi pemain muda Barcelona tersebut.
Nama Lamine Yamal sedang melesat bak meteor. Di usia 18 tahun, ia telah menorehkan sederet rekor membanggakan bersama Barcelona dan tim nasional Spanyol, menjadikannya salah satu talenta muda paling bersinar di dunia. Namun, di balik sorotan prestasi itu, bayang-bayang kontroversi mulai membuntuti.
Yamal kerap diberitakan terlibat dalam sejumlah skandal di luar lapangan—mulai dari hubungannya dengan wanita berusia jauh lebih tua, hingga pesta ulang tahunnya yang dikabarkan memicu kontroversi karena dugaan tindakan tidak pantas. Publik pun mulai menilai bahwa sang bintang muda tengah terjebak dalam sindrom “star syndrome” terlalu dini.
Di tengah badai kritik itu, Kylian Mbappé tampil dengan nada berbeda. Alih-alih mengecam, kapten tim nasional Prancis itu justru mengajak publik untuk memandang Yamal dengan lebih manusiawi. “Dia pemain hebat di lapangan, tapi jangan lupa, dia baru 18 tahun. Semua orang bisa salah di usia itu,” ujar Mbappé, dikutip dari Marca.
Mbappé menilai bahwa kehidupan pribadi seorang pesepakbola tidak semestinya menjadi bahan konsumsi publik berlebihan, selama tidak menimbulkan konsekuensi serius. “Dia punya gairah besar untuk sepak bola, dan itu yang terpenting. Sisanya adalah kehidupannya sendiri. Biarkan dia belajar dari pengalamannya,” tambah penyerang yang pernah membela AS Monaco.
Bagi Mbappé, sorotan terhadap pemain muda sering kali berlebihan. Publik dan media menuntut kesempurnaan dari figur yang masih belajar memahami dunia. “Pada akhirnya, dia akan tahu mana yang baik untuk dirinya. Kita hanya perlu melihat apa yang dia lakukan di lapangan, bukan di luar itu,” kata Mbappé menegaskan.
Pernyataan tersebut menjadi tamparan halus bagi publik sepak bola yang kerap menghakimi bintang muda tanpa memberi ruang untuk tumbuh. Dalam pandangan Mbappé, bakat besar seperti Yamal seharusnya diberi waktu dan kesempatan, bukan tekanan yang membebani.
Kini, dukungan dari sang rival menegaskan satu hal: bahkan di dunia sepak bola yang penuh kompetisi, masih ada ruang bagi empati. Mbappé tidak hanya menilai Yamal sebagai pesaing di lapangan, tapi juga sebagai generasi penerus yang sedang belajar meniti perjalanan menuju kedewasaan—sebuah perjalanan yang pernah ia jalani sendiri. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari