RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Pasca kekalahan 2-3 Timnas Indonesia dari Arab Saudi pada laga pembuka Ronde Keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, satu nama tetap meninggalkan kesan mendalam, yakni Marten Paes.
Kiper berdarah Kediri itu tampil cukup konsistens menjaga gawang Garuda, meski sepanjang laga harus menghadapi tekanan berat yang datang bertubi-tubi, dan memungut tiga bola dari jala gawangnya.
Dengan rating 7.2, Paes menjadi pemain terbaik kedua Indonesia setelah Kevin Diks yang mencetak dua gol dari titik putih.
Ketika Indonesia Mulai Keteteran, Paes Menjadi Penjaga Harapan
Indonesia sempat memulai laga dengan percaya diri. Gol cepat Kevin Diks lewat penalti membuat publik sempat berharap besar. Namun mulai menit ke-20, ritme permainan berubah drastis.
Arab Saudi mengambil alih dominasi, mengurung pertahanan Indonesia lewat kombinasi umpan cepat dan pergerakan diagonal antar sayap.
Dalam fase itulah Marten Paes mulai bekerja keras. Tekanan datang silih berganti dan kiper FC Dallas tersebut menunjukkan refleks luar biasa.
Ia setidaknya mencatat tujuh penyelamatan penting sepanjang laga, dengan empat di antaranya tergolong penyelamatan diving yang menuntut kecepatan reaksi tinggi.
Bertahan di Bawah Tekanan Hingga Menit ke-75
Situasi tak jauh berbeda di awal babak kedua. Arab Saudi terus menekan dengan intensitas tinggi. Indonesia sempat kesulitan keluar dari tekanan hingga memasuki menit ke-75, dan sepanjang periode tersebut Paes menjadi figur paling sibuk di lapangan.
Ia mencatat empat penyelamatan di dalam kotak penalti, serta melakukan dua kali punching dan satu klaim tinggi di udara yang krusial untuk mematahkan ancaman umpan silang.
Salah satu momen yang krusial di babak kedua ketika Paes 1 vs 1 dengan pemain nomor 10 The Green Falcon, Kiper FC Dallas itu keluar dari sarang dan mampu membaca tendangan chip dengan mudah. Tindakan instingtif itu mencegah gawang Indonesia kebobolan lebih banyak.
Ketenangan Paes dalam mengamankan bola-bola berbahaya memberikan sedikit ruang bernapas bagi lini belakang yang mulai kelelahan.
Meski akhirnya kebobolan tiga gol, tidak ada yang datang akibat kesalahan pribadi. Justru, ketepatan posisi dan komunikasi Paes dengan bek-bek di depannya kerap mencegah potensi kebobolan lebih banyak.
Distribusi dan Kejelian dalam Membangun Serangan
Selain ketangguhannya di bawah mistar, Paes juga menunjukkan peran penting dalam distribusi bola. Ia menyentuh bola sebanyak 50 kali — salah satu yang terbanyak di antara pemain belakang — menandakan betapa besar ketergantungannya tim pada build-up dari kakinya.
Dengan akurasi umpan mencapai 63 persen, termasuk beberapa umpan jauh yang membuka ruang serangan, Paes memainkan peran vital dalam memulai serangan balik ketika Indonesia mencoba keluar dari tekanan.
Meski jarang naik untuk berperan sebagai sweeper-keeper, gaya bermainnya tetap terukur dan efisien. Ia memilih bermain aman, memastikan bola keluar dari area berbahaya tanpa memancing risiko yang tak perlu.
Cara itu memperlihatkan kedewasaannya dalam membaca situasi, terlebih ketika lini tengah Indonesia kehilangan kontrol permainan.
Harapan untuk Laga Berikutnya
Performa impresif ini membuat Marten Paes dipastikan bakal kembali menjadi andalan saat Indonesia menghadapi Irak pada akhir pekan nanti.
Dengan lawan yang punya daya serang eksplosif, kehadiran Paes di bawah mistar akan kembali menjadi penentu. Jika lini depan mampu memanfaatkan peluang seefektif Paes mematahkan ancaman, Garuda masih punya peluang untuk mencuri poin. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari