RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – AFC melalui Komisi Disiplin dan Etika (DEC) mereka mengumumkan beberapa hukuman denda dan sanksi untuk berbagai klub dan federasi sepak bola di tingkat Asia pada Senin (6/10), berdasarkan hasil rapat DEC pada Jumat dan Sabtu (2-3/10). Indonesia kecipratan sedikit hukuman administrasi, baik di tingkat negara maupun klub.
Di tingkat negara, PSSI dihukum denda akibat masalah yang agak sepele, namun melanggar disiplin. Yakni terlambat mengumpulkan permintaan izin penyelenggaraan turnamen Piala Presiden 2025 pada pertengahan tahun ini.
“PSSI diwajibkan membayar denda sebesar USD 1.250 (Rp 20,7 juta) terhadap pelanggaran Pasal 11.7 Peraturan Penyelenggaraan Laga Internasional AFC”, bunyi keputusan tersebut. PSSI punya waktu sebulan untuk membayar denda tersebut.
PSSI sendiri bukan satu-satunya federasi sepak bola yang terkena hukuman akibat telat meminta izin pertandingan atau turnamen. Uzbekistan (Piala Memorial Mirabor Usmanov), Australia (Pertandingan persahabatan Wrexham melawan Melbourne Victory dan Sydney FC) dan Vietnam (Piala Thienlong Thaigroup) juga menerima hukuman denda dengan dakwaan sama persis.
Sementara itu di tingkat klub, Persib Bandung menerima denda dari penyelenggaraan laga AFC Champions League 2 (ACL2) melawan Manila Digger pada Agustus lalu (13/8). Dakwaannya juga tergolong ringan, yakni karena panitia penyelenggara tidak memberi label nomor tempat duduk tribun di stadion Gelora Bandung Lautan Api , serta tidak memberi nomor tiket sesuai nomor tempat duduk tribun tersebut.
Namun karena dua dakwaan tersebut dianggap sebagai pelanggaran terpisah, Persib menanggung total dua denda sekaligus. “Persib diwajibkan membayar denda sebesar USD 1.000 (Rp 16,5 juta) karena melanggar Pasal 39.2 dan 39.3 Peraturan Stadion AFC, serta denda sebesar USD 1.000 karena melanggar Pasal 37.1 Peraturan ACL2 Musim 2025/2026”, bunyi keputusan AFC.
Sehingga total Maung Bandung harus merogoh kocek sekitar Rp 33 juta untuk membayar denda. Sama seperti denda untuk PSSI, ada tenggat waktu sebulan untuk membayar denda tersebut.
Dibanding dengan berbagai hukuman dan denda lain yang dijatuhkan AFC, kedua denda tersebut tergolong relatif ringan, baik di tingkat negara maupun tingkat klub. Sebagai catatan samping, keputusan ini belum atau tidak meliputi beberapa insiden, seperti mundurnya Mohun Bagan SG dari ACL2 yang diselesaikan secara terpisah oleh AFC, serta simpang siur soal naturalisasi tujuh pemain Timnas Malaysia yang baru-baru ini terkuak.
Denda paling keras di tingkat negara diterima oleh Timnas Putri Mongolia dan Federasi Sepak Bola Uzbekistan (UFA). Timnas Putri Mongolia didiskualifikasi akibat kelakuan dalam kompetisi, sementara UFA didenda akibat urusan di luar lapangan.
Timnas Putri Mongolia mendadak undur diri dari babak kualifikasi Piala Asia U-20 Putri 2026 dua minggu sebelum pertandingan pertama mereka. Sehingga mereka didiskualifikasi dari turnamen tersebut, dilarang mengikuti kualifikasi untuk edisi 2028, dan didenda sebesar USD 20.000 (Rp 331 juta).
Sementara UFA dikenakan pasal berlapis dari laga Timnas Uzbekistan melawan Qatar dalam Kualifikasi Piala Asia 2026, yakni menggelar upacara penutupan tanpa izin AFC, tidak menyiapkan konferensi pers pasca pertandingan, dan membolehkan sponsor di luar izin AFC hadir dalam pertandingan. Total UFA didenda sebesar USD 340 ribu (Rp 5,63 milyar).
Sementara di tingkat klub, laga ACL2 antara FC Goa dengan Al Seeb memancing denda besar untuk kedua klub. FC Goa selaku tuan rumah didenda USD 10.000 (Rp 165 juta) akibat suporter yang memantik kerusuhan, sementara pelatih Al Seeb, Valeriu Tita didenda sebesar USD 5.000 (Rp 83 juta) akibat berdebat dan merendahkan kepemimpinan wasit dalam pertandingan tersebut. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana