Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mimpi Buruk Pemain Indonesia Menembus Liga Jepang, Dari Ricky Yakobi, Irfan Bachdim, hingga Justin Hubner

Hakam Alghivari • Rabu, 20 Agustus 2025 | 00:44 WIB
(Instagram Justin Hubner)
(Instagram Justin Hubner)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Harapan selalu melambung tinggi ketika nama pemain Indonesia diumumkan bergabung dengan klub Liga Jepang. Dukungan publik membludak, media sosial klub melonjak pengikutnya, dan headline media nasional penuh euforia.

Namun, ketika lampu sorot meredup dan jadwal liga berjalan, kenyataan kerap tidak seindah narasi awal. Hampir semua pemain Indonesia yang mencoba peruntungan di Negeri Sakura harus menghadapi kenyataan pahit: sulit menembus kompetisi utama.

Fenomena ini bukan terjadi sekali dua kali. Dari era Ricky Yakobi di penghujung 1980-an hingga Justin Hubner di 2024, pola yang terlihat hampir sama: kesempatan bermain terbatas, karier singkat, dan akhirnya pulang dengan tangan hampa. Bagi publik, inilah yang sering disebut “mimpi buruk pemain Indonesia di Liga Jepang”.

Apakah Liga Jepang benar-benar menjadi “kuburan” bagi pemain Indonesia? Atau ada faktor lain yang membuat kiprah mereka tidak sesuai harapan?

Jejak Pemain Indonesia di Liga Jepang

Nama Ricky Yakobi menjadi pionir. Pada 1988, ia menandatangani kontrak dengan Matsushita Electric, klub yang kini dikenal sebagai Gamba Osaka. Ricky sempat mencetak satu gol dari enam pertandingan, tetapi kariernya tak bertahan lama. Cedera dan sulitnya beradaptasi dengan cuaca dingin Jepang membuatnya kembali ke tanah air lebih cepat dari rencana.

Dua dekade kemudian, generasi baru mencoba peruntungan. Irfan Bachdim bergabung dengan Ventforet Kofu (J1) pada 2014, tetapi tak sekali pun tampil di kompetisi liga. Kesempatan terbatas ia dapatkan di ajang piala, lalu melanjutkan karier ke Consadole Sapporo (J2) pada 2015–2016. Hasilnya pun serupa: hanya tujuh kali bermain dengan total menit yang sangat minim.

Nasib tak jauh berbeda dialami Stefano Lilipaly, yang juga direkrut Consadole Sapporo pada 2014. Selama semusim, ia sama sekali tak mencatat menit di liga. Satu-satunya penampilan terjadi di Piala Kaisar, di mana ia sempat memberi satu assist.

Generasi berikutnya menghadirkan nama Pratama Arhan. Pada 2022, bek kiri Timnas Indonesia itu bergabung dengan Tokyo Verdy di J2 League. Sambutan publik luar biasa; akun media sosial klub melonjak drastis jumlah pengikutnya. Namun, di lapangan, Arhan lebih banyak duduk di bangku cadangan. Tiga musim berseragam Verdy, catatan bermainnya tidak sebanding dengan popularitasnya.

Justin Hubner mencetak sejarah pada 2024 dengan status sebagai pemain Indonesia pertama yang tampil di J1 League. Dipinjamkan Wolverhampton Wanderers ke Cerezo Osaka, Hubner menjalani debut melawan Albirex Niigata pada Maret 2024. Namun, ia hanya tampil beberapa kali dengan total menit bermain kurang dari 200. Pada Juli, Cerezo mengakhiri masa peminjaman lebih cepat dan mengembalikannya ke Wolves.

Terakhir, Sandy Wals yang hanya bertahan kurang lebih tujuh bulan di Yokohama F Marinos, sebelum akhirnya bergabung dengan Buriram United pada 13 Agustus lalu. Di Jepang, Sandy hanya membukukan catatan 8 penampilan di J1 League, 1 penampilan di Emperor's Cup, dan 3 penampilan di AFC Champions League.

Mengurai Faktor Penyebab

Mengapa hampir semua pemain Indonesia sulit bertahan di Liga Jepang? Sejumlah faktor kerap muncul dalam diskusi publik maupun analisis pengamat.

Pertama, adaptasi kompetisi dan budaya. J-League dikenal disiplin, berintensitas tinggi, dan menuntut fisik prima. Cuaca dingin Jepang juga kerap disebut sebagai hambatan, terutama bagi pemain yang terbiasa dengan iklim tropis.

Kedua, persaingan internal. Klub-klub Jepang memiliki pemain lokal berkualitas yang menjadi tulang punggung tim, ditambah kuota pemain asing yang terbatas. Posisi di starting XI otomatis lebih sulit didapatkan bagi pemain yang baru datang dari liga dengan standar berbeda.

Ketiga, kendala komunikasi. Bahasa menjadi tembok tersendiri. Meski tampak sepele, kesulitan memahami instruksi pelatih atau berinteraksi di lapangan bisa memengaruhi performa.

Keempat, faktor non-sportif. Sebagian transfer dipandang lebih sebagai strategi pemasaran. Kasus Pratama Arhan menjadi contoh, di mana dampak terbesar justru terjadi di media sosial klub, bukan di statistik pertandingan. Bahkan, kasus beberapa bulan lalu Justin Hubner pernah mengutarakan bahwa pindah 

Terakhir, perencanaan karier. Banyak pemain Indonesia yang langsung loncat ke Jepang tanpa melalui tahapan di kompetisi Asia lain. Alhasil, mereka kurang teruji menghadapi ritme pertandingan dan tuntutan level J-League.

Realita

Bahwa Liga Jepang adalah “kuburan” bagi pemain Indonesia bukan muncul tanpa alasan. Dari Ricky Yakobi hingga Justin Hubner, tidak ada yang benar-benar meninggalkan jejak panjang di sana. Namun, menyebut J-League semata-mata sebagai kuburan tentu terlalu sederhana.

Realitanya, liga ini memang memiliki standar tinggi. Ketika pemain Indonesia gagal bersinar, itu lebih menggambarkan kesenjangan kualitas, persiapan, dan manajemen karier dibandingkan sekadar nasib buruk.

Bagi pesepakbola muda Tanah Air, kisah-kisah tersebut seharusnya menjadi cermin: sebelum bermimpi tampil di level top Asia, kesiapan teknis, fisik, mental, dan adaptasi budaya harus benar-benar matang.

Di satu sisi, kehadiran nama-nama tersebut tetap memberi arti. Mereka membuka jalan, memberi inspirasi, dan menghadirkan pelajaran penting bagi generasi berikutnya. Jalan menuju sukses mungkin terjal, tetapi justru di sanalah tantangan sejati sepak bola Indonesia berada. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#sandy walsh #liga jepang #pemain indonesia #Justin Hubner #mimpi buruk