RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Prestasi cabang olahraga (cabor) atletik terus menurun di beberapa edisi porprov. Termasuk Porprov 2025 lalu cabor atletik gagal menyumbangkan medali emas.
Sebaliknya hanya meraih dua perak dan dua perunggu. Padahal di Porprov 2022 meraih empat emas, tiga perak, dan empat perunggu. Kemudian di Porprov 2023 meraih satu emas, tiga perak, dan tujuh perunggu.
Pelatih Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Bojonegoro Ahmad Rizani mengatakan, muncul lawan-lawan baru di Porprov Jatim. Sehingga persaingan semakin ketat. Dampaknya medali diperoleh berkurang.
Hasil di porprov tahun ini menjadi cambuk untuk berbenah. Tentu dengan persiapan lebih baik lagi. Juga perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang layak, seperti lintasan lari.
Ketua PASI Bojonegoro Saifudin mengatkan, dimulai dari Porprov 2019 di Tuban, 2022 di Jember, 2023 di Sidoarjo kemudian terakhir di Malang perolehan medali dari PASI terus menurun. Terdapat beberapa faktor penyebab penurunan prestasi tersebut.
Seperti persaingan di masing-masing kabupaten/kota sangat kompetitif. Kemudian targetkan dua emas dari lari 1.500 meter (m) dan 3.000 m lepas.
Terlebih pelari andalan di nomor tersebut Siti Frisda mengalami masalah hamstring sehingga tidak bisa melanjutkan lomba. Akhirnya di lari 3.000 meter memperoleh medali perak dari Amelia.
‘’Padahal pada kejurprov Siti Frisda meraih emas,” terangnya.
Baca Juga: Luar Biasa! Kontingen Bojonegoro Berhasil Lampaui Target Perolehan Medali Porprov 2025
Lalu M.Fahri andalan di tolak peluru putra baru sampai di Malang H-1 pertandingan akibat mengikuti latihan di Tiongkok setelah menang dalam SAC. Sehingga ketika tampil di porprov gagal. Sehingga di tolak peluru hanya mendapatkan perak dari atlet putri atas nama Resti.
Udin menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan atlet pelapis tidak bisa langsung menggantikan seniornya atau atlet utama. Sehingga masih perlu mematangkan atlit-atlit pelapis secara serius. Agar bisa langsung berkesinambungan prestasi atletik di Bojonegoro.
‘’Meskipun sarana apa adanya namun tidak mau beralasan kurangnya sarana. Karena kenyataannya 3 kali porprov bisa berprestasi dengan sarana yang seadanya,” jelasnya.
Udin menambahkan, faktor kejenuhan atlet diperkirakan juga berpengaruh pada prestasi. Terlebih atlet seperti Siti Frisda dan Joni ini sudah empat edisi Porprov selalu berprestasi. Sehingga diperkirakan sudah mencapai titik kejenuhan.
‘’Sehingga tahun ini gagal mengukir prestasi maksimal,” ungkapnya. (irv/msu)