RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Mungkin masih segar di benak publik sepak bola Indonesia, Persewar Waropen terkatung-katung menjalani Liga 2 musim 2024/2025 lalu. Selain jadi karung samsak berbagai tim lawan hingga terdegradasi ke Liga Nusantara musim depan, secara finansial Persewar juga mengalami hambatan besar.
Bahkan Persewar juga sempat kehilangan poin akibat tidak dapat hadir tepat waktu saat bersua Persela Lamongan di Tuban Sport Center (1/12/2024) setelah kesulitan mencari tiket pesawat. Mutiara Bakau (julukan Persewar) juga hampir mengulang kejadian serupa dengan Persibo Bojonegoro lima hari kemudian (6/12/24), namun akhirnya dapat tiba di Stadion Letjend Soedirman tepat pada hari pertandingan, meskipun dengan skuad dan staf pelatih yang sangat tipis.
Ternyata masalah keuangan Persewar sangat parah, sebagaimana diungkapkan oleh pelatih mereka, Eduard Ivakdalam kepada awak media Jayapura pada April lalu (19/4). Tidak tanggung-tanggung, seluruh pemain dan jajaran staf, baik pelatih maupun official tidak menerima gaji semusim penuh.
“Kami sudah cukup lama bersabar, tetapi tak ada itikad baik dari manajemen. Hingga sekarang, pelatih dan pemain belum menerima hak mereka. Artinya, kami tampil di kompetisi kemarin tanpa mendapatkan bayaran,” jelas Eduard kala itu.
Hal serupa juga diutarkan kapten Persewar musim lalu, Fardiansyah yang turut hadir bersama Eduard. “Waktu itu manajemen pernah menyampaikan untuk bersabar tapi sampai kompetisi selesai belum dibayarkan hak-hak kami,” paparnya.
Sebulan setelah Eduard dan Fardiansyah buka suara, ternyata manajemen Persewar juga belum bergeming, bahkan tidak menemui pemain dan staf. Sehingga sebagai langkah terakhir, sebagaimana dilansir dari Portal Papua, jajaran pemain dan staf mengancam menyeret manajemen ke hadapan kepolisian jika manajemen tidak mau duduk satu meja dengan mereka.
Surat undangan pertemuan antara jajaran pemain dan staf dengan manajemen diterbitkan oleh perwakilan pemain dan staf pada Jumat (23/5), dengan tujuan utama kepada Ketua Umum Persewar, Yermias Bisai yang juga mantan Bupati Waropen.
“Kami segenap pemain, pelatih dan official meminta audiensi atau pertemuan dengan manajer tim untuk membahas kejelasan tentang hak -hak pemain, pelatih dan official yang belum terbayarkan", bunyi surat tersebut.
Para pemain dan staf bakal menunggu kejelasan audiensi hingga 28 Mei mendatang. "Kami juga akan menempuh jalur hukum ke Polda Papua sebagai langkah terakhir jika manajemen tidak merespon untuk hak -hak kita selama satu musim", lanjut surat tersebut.
Yermias sendiri telah terjerat hukum dua kali sepanjang 2025. Usai pilkada 2024 lalu, Yermias maju sebagai Calon Wakil Gubernur Papua, namun didiskualifikasi karena ketahuan memalsukan surat keterangan domisili dan surat keterangan tidak pernah dipenjara. Sebulan kemudian, Yermias ditetapkan sebagai tersangka kasus kekerasan dalam rumah tangga setelah dilaporkan oleh istrinya sendiri. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana