Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Preview Kualifikasi Piala Dunia 2026 Bahrain vs Indonesia Malam Ini: Saatnya Tebus Dosa Satu Dekade Silam

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 10 Oktober 2024 | 22:58 WIB
Indonesia dan Australia harus puas berbagi poin usai bermain nirgol pada laga Selasa malam (10/9) (Dok. AFC)
Indonesia dan Australia harus puas berbagi poin usai bermain nirgol pada laga Selasa malam (10/9) (Dok. AFC)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Lebih dari satu dekade lalu, tepatnya pada penghujung Februari 2012, tim nasional (timnas) Indonesia dan Bahrain bersua dalam helatan leg 2 kualifikasi Piala Dunia 2014. Sebelumnya, pada leg pertama di Stadion Gelora Bung Karno setengah tahun sebelumnya, Indonesia menelan kekalahan 0-2, sehingga membawa beban berat saat melawat ke Bahrain.

Di kandang lawan, pasukan Garuda (julukan timnas Indonesia) malah dihantam dan dibabat habis oleh Pejuang Dilmun (julukan timnas Bahrain) dengan skor 10-0. Praktis, tidak hanya harus angkat kaki dari kualifikasi Piala Dunia, penggawa Garuda harus pulang dengan muka semerah bendera Indonesia setelah mencatatkan rekor kekalahan terbesar dalam sejarah sepak bola nusantara.

Kekalahan tersebut juga menjadi salah satu puncak era kegelapan sepak bola Indonesia, yang menyebabkan Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) dibekukan oleh FIFA (federasi sepak bola dunia) dan ranking FIFA timnas terjun bebas. Bermula pada perpecahan pada kepemimpinan internal PSSI di tengah dualisme Liga Indonesia (Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia), terpisahnya kubu LSI dan LPI menyebabkan penggawa timnas Indonesia juga terpecah belah, dengan sebagian pemain top tidak dapat dipanggil karena tim yang dibela mereka membelot ke LPI (LSI pada 2011 hingga 2013, setelah LPI diresmikan di bawah PSSI pada tahun tersebut), termasuk saat melawan Bahrain.

Meskipun, akhirnya LSI dan LPI dapat disatukan kembali pada 2014, dualisme dalam tubuh PSSI yang tak ujung selesai menyebabkan pemerintah pusat melalui Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora)  memutuskan untuk membekukan PSSI. Namun, tindakan tersebut melanggar statuta FIFA tentang independensi asosiasi sepak bola, sehingga meskipun memberikan tenggat waktu agar dua kubu PSSI dan pemerintah menemukan solusi bersama, pada akhirnya FIFA turut menghukum PSSI pada 2015 akibat campur tangan yang dilakukan Kemenpora.

Hukuman tersebut menjadi puncak kekelaman dunia sepak bola Indonesia di era 2010-an. Meskipun sanksi akhirnya dicabut pada 2016, regenerasi sepak bola Indonesia menderita hambatan besar akibat larangan bermain yang ditetapkan FIFA, ditambah ranking FIFA yang terjun bebas setelah lama vakum merumput.

Dua belas tahun setelah Garuda dipenggal Bahrain dan sembilan tahun setelah FIFA membekukan PSSI, sepak bola Indonesia telah kembali dalam keadaan jauh lebih sehat. Tatanan liga nasional perlahan kembali pulih, banyak pemain keturunan Indonesia yang tertarik untuk berkaos merah-putih, dan regenerasi pemain dalam negeri juga membuahkan hasil gemilang.

Indonesia dan Bahrain juga akhirnya dapat melaksanakan reuni setelah terpisah lebih dari satu dekade malam ini (10/10 23.00 WIB), dan kembali bertemu di kualifikasi Piala Dunia seperti sebelumnya. Bedanya, kali ini Bahrain akan menjamu Indonesia terlebih dahulu di Stadion Nasional Bahrain di ibu kota lama negara tersebut, Riffa.

Dari tujuh kali pertemuan Bahrain dengan Indonesia, Indonesia hanya dapat menang dua kali, dengan kemenangan terakhir diperoleh di Piala Asia 2007. Bahrain berhasil memenangkan duel tiga kali, termasuk saat membantai Garuda 10-0, dan dua sisanya berakhri seri.

Di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, Bahrain memulai perjalanan mereka dengan baik, namun tidak muluk-muluk. Pertama, mereka mendapat durian runtuh saat gol bunuh diri Harry Souttar tepat di akhir pertandingan perdana melawan Australia. Namun kemudian Pasukan Dilmun disulap menjadi potongan sushi di tangan timnas Jepang, dengan kekalahan telak 5-0.

Sementara itu, Indonesia masih berusaha mengincar tiga poin perdana. Di pertandingan pertama Indonesia harus berbagi poin dengan Arab Saudi meskipun unggul terlebih dahulu, sementara di pertandingan kedua skuad Garuda dan timnas Australia sama-sama kesulitan mencetak gol ke gawang satu sama lain.

Pertandingan ini juga memiliki implikasi besar terhadap kedudukan kedua kesebelasan di klasemen sementara. Bahrain berada tepat satu peringkat dan terpaut satu poin di atas Indonesia, sehingga tiga poin ekstra dapat menjadi bekal baik bagi kedua tim untuk mengarungi kualifikasi serta mengamankan setidaknya kursi kualifikasi putaran ke-empat.

Selain itu, keduanya juga masih dapat disalip oleh Australia yang akan bermain terlebih dahulu pada sore ini (10/10, 16.00 WIB) melawan China. Gagal menang dua kali serta berganti pelatih dari Graham Arnold ke Tony Popovic bakal menjadi penyulut semangat Socceroos (julukan Australia).

Dalam konferensi pers pra-pertandingan, pelatih Indonesia, Shin Tae-Yong (STY) menyadari beban besar yang ada di hadapan mata. “Hasil dari pertandingan ini sangatlah penting. Kami sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk pertandingan ini dengan sungguh-sungguh,” ujar Shin di hadapan media setempat.

Setidaknya STY dapat sedikit bernafas lega, karena kiper andalannya, Maarten Paes dinyatakan dapat turun menjaga gawang Garuda setelah sebelumnya menderita cedera ringan. “Paes 100 persen dapat bermain melawan Bahrain,” ungkapnya.

Disinggung mengenai kekalahan telak Indonesia atas Bahrain satu dekade lalu, STY mengaku kaget, namun juga tidak terlalu mempermasalahkan. “Daripada balas dendam mending kita fokus ke permainan saat ini. Lebih penting memenangkan pertandingan ini dengan permainan yang kita suka dan kita inginkan,” ujar mantan pelatih timnas Korea Selatan tersebut.

Sementara itu, pelatih Bahrain, Dragan Talajic juga menolak meremehkan skuad Garuda. “Kami sadar laga melawan Indonesia bakal sulit, mereka punya pemain-pemain yang bermain di liga Eropa, Australia dan Amerika, sehingga pemain kami wajib bermain dengan konsntrasi penuh,” ujarnya.

“Pertahanan dan transisi serangan balik Indonesia bagus sekali, mereka hanya kebobolan sekali saat melawan Arab Saudi dan Australia. Jadi kami harus bersabar dan menunggu ada celah terbuka. Menang 1-0 saja pun kami akan senang sekali,” lanjut Dragan.

Pertandingan malam ini akan dipimpin oleh wasit asal Oman, Ahmed Al-Kaf. Selain Maarten Paes, Indonesia juga akan diperkuat dua pemain bintang naturalisasi baru, Mees Hilgers dan Eliano Reijnders, sehingga bakal tampil dengan kekuatan penuh demi meraih tiga poin perdana dan mengobati memori pembantaian satu dekade silam. (edo/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Australia #arab saudi #STY #shin tae-yong #kualifikasi #indonesia #kualifikasi piala dunia #china #skuad garuda #timnas #Mees Hilgers #fifa #Timnas Indonesia #asia #Maarten Paes #kualifikasi piala dunia 2026 #piala dunia 2026 #PSSI #tiga poin #garuda #jepang #timnas bahrain #bahrain #Eliano Reijnders #dragan talajic