RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemandangan unik nampak pada sesi latihan tim nasional (timnas) Indonesia pada Sabtu lalu (7/9). Selain para penggawa yang dipanggil oleh pelatih timnas, Shin Tae-Yong (STY), ada dua personel ekstra yang turut bergabung bersama mereka, yakni Mees Hilgers dan Eliano Reijnders.
Mees dan Eliano saat ini masih berkewarganegaraan Belanda, namun keduanya memiliki darah keturunan Indonesia sehingga berpeluang berkaos merah-putih alih-alih oranye jika proses naturalisasi kedua pemain tersebut sukses. Ibu Mees, Linda Tombeng, berasal dari Sulawesi Utara, sedangkan ibu Eliano, Angelina Lekatompessy, berasal dari Maluku.
Dalam unggahan Instagram resmi timnas, Eliano nampak senang dapat bergabung latihan bersama para penggawa Garuda. “Terima kasih semuanya, saya senang bisa berada di sini, saya bisa bermain bersama kalian semua," ujarnya.
STY sendiri memproyeksikan Mees dan Eliano bergabung dengan timnas sebelum menjalani laga kualifikasi Piala Dunia melawan Jepang dan Arab Saudi pada November mendatang, berhubung proses naturalisasi masih berjalan. “Keduanya mungkin tidak akan mudah untuk bermain pada Oktober, jadi saya berharap mereka bisa main di bulan November,” ungkap STY di hadapan awak media.
Publik Indonesia sendiri sudah akrab dengan kakak Eliano, yakni Tijjani Reijnders yang telah turun bersama timnas Belanda, termasuk pada gelaran Euro 2024 kemarin. Keduanya juga merupakan produk akademi tim sepak bola kampung halaman mereka, PEC Zwolle.
Namun berbeda dengan Tijjani yang menghabiskan karir profesional di AZ Alkmaar sebelum baru-baru ini direkrut AC Milan, Eliano masih membela PEC Zwolle hingga sekarang. Selain itu, Tijjani telah membela timnas Belanda sejak kelompok umur U-20, sementara Eliano belum pernah dipanggil membela Belanda hingga sekarang.
Selain Tijjani dan Eliano, cukup banyak pasangan kakak-adik yang membela tim nasional berbeda. Selain karena faktor orang tua, beragam alasan lain membuat salah satu dari mereka berpindah bendera kebangsaan.
Nico dan Iñaki Williams
Selain Tijjani, pemain timnas Spanyol Nico Williams juga menjadi perhatian sepanjang gelaran Euro 2024. Pemain yang sukses membawa pulang trofi Euro tahun ini juga punya kakak lelaki yang berbeda timnas, yakni Iñaki Williams.
Nico dan Iñaki sama-sama lahir di Spanyol dari orang tua imigran asal Ghana, dan sama-sama membela tim kampung halaman mereka, Athletic Bilbao. Bahkan keduanya bermain di posisi serupa, dengan Nico bermain di sayap kiri, dan Iñaki di sayap kanan.
Semasa muda, Iñaki pernah membela Spanyol U-21, namun saat beranjak dewasa dirinya memutuskan membela Ghana lima bulan sebelum Piala Dunia 2022 untuk memenuhi wasiat kakeknya. “Kakek saya ingin melihat saya bermain untuk Ghana di Piala Dunia sebelum tutup usia, jadi tanpa pikir panjang saya menuruti keinginannya,” jelasnya kepada BBC Sport Africa.
Kevin-Prince dan Jerome Boateng
Sebelum Nico dan Iñaki Williams, dua pasangan kakak-adik yang sama-sama terkenal dan bermain di timnas berbeda terwujud lebih dari satu dekade silam, ketika Kevin-Prince Boateng memilih membela Ghana, dan adiknya, Jerome Boateng, memilih timnas Jerman. Keduanya lahir di Berlin dengan usia hanya terpisah enam bulan, dan sama-sama lulusan akademi Hertha BSC.
Kevin-Prince dan Jerome juga telah membela timnas Jerman sejak remaja, bahkan sempat sama-sama bergabung dengan timnas Jerman U-21 pada 2007 hingga 2009. Namun jelang gelaran Piala Dunia 2010, Kevin-Prince secara mengejutkan menolak panggilan timnas Jerman senior dan menyatakan akan membela timnas Ghana.
Lebih dari satu dekade kemudian, pada podcast Vibe with Five medio 2023, Kevin-Prince akhirnya menjelaskan bahwa friksi dengan tim kepelatihan membuatnya berpaling dari Die Mannschaft (julukan timnas Jerman). “Tadinya saya diproyeksikan bergabung ke timnas Jerman, tapi saya merasa peluang saya kecil karena saya tipe orang yang blak-blakan dan tidak selalu menuruti perintah pelatih,” jelasnya.
“Mungkin mereka tidak menyadari bahwa kepribadian saya tidak cocok untuk timnas Jerman, jadi hubungan kami cukup renggang. Saya juga tidak mau bermain bersama timnas Jerman namun kemudian dihujat satu negara saat gagal, jadi saya berkata, ‘ya sudah, saya akan bermain untuk leluhur saya',”, lanjutnya.
Thiago Alcantara dan Rafinha
Dua bintang lain yang memilih berbeda tim nasional adalah Thiago Alcantara dan Rafael Alcantara, alias Rafinha. Keduanya merupakan anak dari pemain veteran Brazil, Mazinho, namun keduanya menimba ilmu sepak bola di Spanyol. Selain itu, Thiago lahir di Italia, sementara Rafinha lahir di Brazil.
Semasa muda, mereka sama-sama menimba ilmu di sekolah sepak bola Barcelona, La Masia, dan juga menjalani debut profesional bersama tim Catalonia tersebut. Namun kemudian Thiago berpindah ke Bayern Munich pada 2013, sementara Rafinha dipinjamkan ke Celta Vigo dan Inter Milan sebelum berpindah ke Paris Saint-Germain pada 2020.
Thiago dan Rafinha juga sama-sama membela timnas Spanyol kelompok umur, namun ketika beranjak dewasa, keduanya memutuskan berpisah dengan alasan perbedaan niat dan persepsi asal-usul.
“Saya merasa saya ini orang asli Brazil, jadi saya menuruti keinginan saya untuk bergabung dengan timnas Brazil. Saya dan ayah sendiri juga mengajak Thiago untuk juga membela Brazil, namun dirinya sudah dipanggil Spanyol lebih dulu,” jelas Rafinha kepada BeSport jelang Piala Dunia 2016. “Saya sejak kecil sampai sekarang tinggal di Spanyol,” ujar Thiago.
Taulant dan Granit Xhaka
Taulant dan Granit Xhaka sama-sama lahir di Basel dari orang tua asal Albania, dengan selisih usia satu setengah tahun. Semasa kecil, keduanya sama-sama menimba ilmu di klub Concordia Basel dan FC Basel.
Hingga saat ini, Taulant masih setia bermain untuk FC Basel sambil mengoleksi berbagai trofi liga setempat, meskipun semasa muda pernah dipinjamkan ke klub asal Denmark, Grasshopper. Sedangkan karir Granit jauh lebih moncer, pernah jadi pemain andalan Arsenal dan baru-baru ini memborong trofi Bundesliga dan DFB-Pokal bersama Bayer Leverkusen.
Keduanya sama-sama membela timnas Swiss kelompok umur hingga level U-21 pada 2011, dan Granit dipanggil lebih dulu ke timnas senior di tahun yang sama. Usai membela Swiss untuk pertama kali, Granit menyarankan Taulant agar tidak perlu menunggu panggilan Swiss dan bergabung dengan timnas Albania. “Granit meyakinkan saya untuk bergabung dengan Albania alih-alih Swiss,” kata Taulant setahun sebelum Euro 2016 kepada media nasional setempat.
Uniknya, Taulant dan Granit pernah berhadapan satu sama lain di hadapan orang tua mereka di Euro 2016. “Orang tua kami berpesan untuk tetap bekerja profesional. Saya sendiri meminta izin kepada kakak saya (Taulant) agar boleh menekling dia,” ungkap Granit pasca pertandingan yang berakhir 1-0 untuk Swiss tersebut.
John dan Harry Souttar
John dan Harry Souttar lahir terpaut dua tahun di Aberdeen, Skotlandia. Semasa kecil, keduanya menimba ilmu di akademi sepakbola Brechin City, kemudian berpindah ke Dundee United sebelum memulai karir profesional mereka.
Keduanya juga membela timnas Skotlandia sejak usia remaja, namun pada 2019 Harry memutuskan untuk berpindah ke timnas Australia U-23 sekaligus senior. Harry sendiri memilih mengenakan kaus emas ketimbang biru karena tidak kunjung menerima panggilan dari timas Skotlandia, serta untuk menghormati ibu dan neneknya yang berasal dari negeri Kangguru tersebut.
“Saya berbincang bersama staf kepelatihan Australia, serta mendengar berbagai cerita dari ibu dan nenek saya, sehingga tekad saya bulat untuk membela Australia,” ujar Souttar kepada Optus Sport. “Terakhir kali saya membela Skotlandia di tingkat U-19, setelah itu saya belum pernah menjalin komunikasi kembali,” tambahnya. (edo/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana