BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Prestasi yang menurun atlet Bojonegoro pada Porprov 2023 menjadi sorotan DPRD. Khususnya komisi C yang membidangi olahraga.
Pada porprov tahun ini Bojonegoro hanya mampu finis di posisi 26 klasemen perolehan medali. Terjun bebas 10 peringkat dari 2022 yang menempati posisi 16 klasemen perolehan medali.
Bojonegoro berada di bawah Kabupetan Tuban juga Lamongan yang berada di posisi 13 dan 20 klasemen perolehan medali.
Penurunan prestasi Bojonegoro pada Porprov 2023 sudah diprediksi sejak awal. Terlebih anggaran hibah ke KONI dan pengurus cabang olahraga (cabor) dinilai terlalu kecil. Sehingga tidak mampu mendukung peningakatan prestasi olahraga.
Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Mochlasin Afan mengatakan, prestasi yang menurun pada porprov tahun ini sudah diprediksi. Bahkan sudah menjadi bahan evaluasi Komisi C pada rapat dengan dinas terkait dan badan anggaran.
‘’Sudah tidak kaget, telah diprediksi satu hingga dua tahun lalu,” ungkapnya.
Afan menjelaskan, permasalahan utama yang membuat prestasi olahraga Bojonegoro menurun karena dukungan anggaran yang minim dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ke cabor.
‘’Bayangkan saja hibah untuk KONI kurang dari 5 miliar, tepatnya 4,7 miliar dibagi untuk 33 cabor. Lalu cabor tersebut bisa melakukan apa dengan anggaran sekecil itu. Karena dana hibah untuk opersasional KONI juga,” jelasnya.
Afan mengaku pada rapat anggaraan untuk 2024, Komisi C mendesak hibah KONI ditambah. Sehingga cabor bisa melakukan perencanaan, pemusat pelatihan untuk atlet, dan program peningkatan prestasi di masing-masing cabor.
‘’Jika anggaran tidak ada lalu bagaimana mereka (cabor) melakukan itu (pembinaan),” jelasnya.
Pihaknya menilai dukungan pemkab untuk bidang olahraga sangat minim. Baik anggaran maupaun sarana dan prasarana. Kondisi tersebut terjadi di semua cabor.
Baca Juga: Dipastikan Angkat Koper dari Porprov
Afan meminta ke depan harus ada forum yang bisa mempertemukan komisi C dengan KONI dan semua cabor. Tentu membahas kebutuhan cabor untuk bisa melakukan peningkatan prestasi.
Ketua Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) Bojonegoro Anam Saifuddin mengatakan, perlu evaluasi tentang pembinaan dan pembibitan untuk menindaklanjuti hasil Porprov 2023. Salah satu berkaitan kurangnya event olahraga di dalam kabupaten yang digelar.
‘’Juga atlet jarangan mengikuti event di luar Bojonegoro sebagai faktor tertinggalnya olahraga dari kota/kabupaten lain,” jelasnya.
Menurut Anam, potensi penduduk di bidang olahraga banyak. Juga APBD yang besar seharusnya menjadi dorongan peningkatan prestasi.
‘’Banyaknya APBD yang diberikan harus berbanding lurus dengan prestasi. Bisa dibadingkan dengan kabupaten/kota lain yang bisa menduduki peringkat 10 besar,” ujarnya.
Anam menjelaskan, pada Porprov ke VI saat Bojonegoro tuan rumah bisa peringkat 10 besar. Saat itu tidak hanya cabor dan KONI yang mendapat anggaran paling besar 5 tahun terakhir.
Juga ada dukungan dari dinas kepemudaan dan olaharaga (dispora) dengan membentuk pemusatan latihan kabupetan (puslatkab).
‘’Jika tidak salah waktu itu atlet dan pelatih menjalani puslatkab hampir 3 bulan. Sehingga terlihat prestasinya,” ungkapnya.
Anam mengaku persiapan tahun ini memang kurang, walau dari segi permainan atletnya meningkat. Terlihat dari setiap permainan selalu unggul dahulu, tetapi perolehan skor mampu disusul lawan.
‘’Karena jam terbang atlet kurang sehingga sangat berpengaruh,” ujarnya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana