BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Regenerasi pemain sepak bola tidak bisa terlepas dari sekolah sepak bola (SSB) dan akademi sepak bola. Terlebih SSB dan akademi menjadi wadah munculnya pemain-pemain cilik berbakat.
Namun, saat ini keberadaan SSB dan akademi melatih pemain usia muda belum didukung kompetisi berkelanjutan. Sehingga pemain SSB dan akademi tidak memiliki muara atau tujuan dari latihan.
Yanuar Andika pembina SSB Satria Mandiri Purwosari mengatakan, geliat SSB di Bojonegoro masih bagus meski tidak ada kompetisinya. SSB tetap gelar kompetisi mandiri. Padahal, SSB berperan penting memajukan sepak bola di Bojonegoro. Terlebih regenerasi pemain. Memunculkan pemain cilik berbakat berkiprah level profesional.
Meski tak ada kompetisi, SSB kian bersemangat melatih pesepak bola cilik seiring adanya seleksi Elite Pro Academy (EPA). Tentu EPA maupun kompetisi kelompok umur (KU) lainnya bisa menjadi muara dari SSB. ‘’EPA saat ini seleksi ke daerah-daerah,” ujarnya.
Terdapat kendala dihadapi SSB. Andika menuturkan, salah satunya jam terbang kompetisi berkelanjutan. Sehingga siswa SSB rentan mengalami kejenuhan akibat hanya berlatih tanpa muara kompetisi. ‘’Tidak mempunyai motivasi lebih berlatih,” tutur mantan pelatih Bojonegoro FC tersebut.
Direktur Teknik Akademi Bintang Muda Bojonegoro Masdra Nurriza mengatakan, akademi menjadi wadah membangun ekosistem sepak bola usia dini. Tentu ditunjang kompetisi resmi. Turnamen atau kompetisi berjenjang bisa menjadi sarana memantau pemain potensial berbagai KU. ‘’Sehingga setiap berkala bisa update data pemain potensial,” tutur mantan pelatih Persibo tersebut. (irv/rij)
Editor : Yuan Edo Ramadhana