SEBAGAI anak petani di desa, Nadia Sahara Anastasya Putri ingin menjadi perempuan mandiri, berdampak pada sekitar dan menginspirasi. Untuk mencapai itu Nadia aktif mengikuti berbagai organisasi untuk mengembangkan diri.
''Sejak kecil ikut turun ke ladang membantu orang tua bertani," jelas mahasiswi jurusan Bahasa Inggris itu.
Sejak duduk di bangku SMP, mahasiswi asal Desa Leran, Kecamatan Kalitidu itu mulai aktif di berbagai organisasi. Seperti OSIS, IPPNU, koperasi madrasah, dewan ambalan, hingga ketua angkatan 32 MAN 2 Bojonegoro.
''Aktif berorganisasi bukan alasan untuk tertinggal secara intelektual," ungkap mahasiswi 20 tahun itu.
Meski aktif di organisasi, selama SMP dan MA, Nadia tetap menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan organisasi. Hasilnya selama bersekolah juara kelas menjadi langganan. Bahkan ketika lulus dari MA meraih predikat peraih nilai terbaik dalam asesmen madrasah.
''Prestasi akademik adalah bentuk tanggung jawab atas kesempatan belajar yang dimiliki," jelas mahasiswi Unugiri Bojonegoro itu.
Saat ini di bangku perkuliahan, Nadia aktif di PAC IPPNU Kecamatan Kalitidu dan IPPNU Bojonegoro. Selain itu, aktif di dunia literasi dan komunikasi. Termasuk menjadi pemandu acara maupun moderator di beberapa diskusi.
Nadia ingin membuktikan perempuan desa bukan penghalang untuk membawa perubahan. Juga menunjukkan bahwa kemandirian, kecerdasan, dan integritas adalah kunci untuk menjadi pribadi yang berdaya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana