DUNIA anak-anak bukan hanya ruang belajar, bagi Selviana Ayu Nur Agustina, saat menjalani peran sebagai guru taman kanak-kanak di Kedungadem, ia menemukan makna lain. Yakni, tempat tumbuhnya imajinasi.
Sejak dulu, perempuan akrab disapa Selvy itu, sudah menyukai seni. Ketertarikan semakin berkembang ketika mengajar anak usia dini.
“Sejak dulu saya senang sekali dengan hal yang berbau seni. Tapi mulai benar-benar berkembang saat saya menjadi guru TK,” ujarnya.
Di kelas, guru 25 tahun itu tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis. Juga, menghadirkan pembelajaran yang kreatif dengan memanfaatkan barang bekas sebagai media belajar.
Kardus, botol plastik, hingga kertas warna-warni ia sulap menjadi berbagai karya sederhana yang menarik bagi murid-muridnya.
“Bagi saya kreativitas tidak butuh biaya mahal, cukup dengan bahan sederhana dan hati yang tulus saja sudah cukup,” tuturnya.
Baginya, menjadi guru TK memang menuntut lebih dari sekadar kemampuan mengajar. Ada unsur seni, kesabaran, dan kehangatan yang harus hadir dalam setiap proses belajar.
“Menjadi guru TK itu tidak hanya mengajar membaca dan menulis, tetapi harus punya seni dan kreatif,” jelasnya.
Di balik aktivitasnya, Selvy menemukan kebahagiaan dari hal sederhana. Salah satunya saat duduk melingkar bersama murid-muridnya, mendengarkan cerita, hingga pelukan hangat yang datang tanpa diminta.
“Ketika mereka memeluk saya, di situ saya merasa sangat bahagia,” ungkapnya.
Meski masih berstatus guru honorer, Selvy tetap melangkah. Bahkan, kini kembali menempuh pendidikan di bidang PGPAUD, sekaligus menjalankan usaha sampingan.
Harapannya, bisa membuka kelas mewarnai dan kerajinan dari barang bekas. Karena, dari hal sederhana, anak-anak bisa belajar percaya diri dan peduli lingkungan sekitar. (kam/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana