BAGI Rahayu Dwi Rahmasari, selembar sketsa bukan hanya gambar. Di balik garis dan warna, ada pesan yang ingin disampaikan, tentang karakter, emosi, hingga identitas yang diterjemahkan melalui busana.
Perempuan yang akrab disapa Ayu ini menekuni ilustrasi fashion dan dunia jahit bermula dari menonton film animasi, lalu mencoba menggambar ulang kostum karakter.
“Ilustrasi fashion bukan sekadar menggambar baju, tapi cara untuk menceritakan kisah melalui garis dan warna,” katanya.
Seiring waktu, ketertarikan itu berkembang menjadi keahlian yang lebih serius. Tak hanya menggambar, tetapi juga mewujudkan desain menjadi busana melalui layanan jahit yang kini dijalankan.
Pengalaman belajar pun terus dikejar. Salah satunya saat mengikuti short course di ITB melalui YICFI selama satu semester di tahun 2018. Dari sana, ia berkesempatan belajar langsung dari sejumlah desainer Indonesia, termasuk Auguste Soesastro, hingga merasakan mentoring bersama desainer dari brand luar negeri.
Bagi Ayu, proses kreatif menjadi bagian paling menarik. Ia menikmati setiap detail, dari konsep hingga hasil akhir yang utuh. “Yang paling saya suka ketika bisa menggambar secara detail dan tuntas,” tuturhya.
Namun, di balik itu, ada proses panjang yang tidak selalu mudah. Revisi berulang hingga detail shading yang belum sesuai kerap menjadi tantangan.
Meski begitu, ia tetap menikmati setiap tahapnya. Kelelahan justru menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang ia jalani.
Kini, selain aktif sebagai desainer, ia juga melanjutkan studi S1 di bidang ekonomi ritel. Ke depan, ia berharap karyanya bisa berkembang lebih luas, dari membuat merchandise hingga terlibat dalam pameran fashion berkelanjutan.
“Yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana ilustrasi fashion bisa menghidupkan ide-ide liar menjadi visual yang nyata,” ujarnya.
Di tangan Ayu, sketsa bukan gambar, melainkan awal dari karya yang benar-benar bisa dikenakan dan diceritakan. (kam/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana