BAGI Valincia Alda Suwito, kelenteng bukan hanya tempat ibadah. Namun, juga tempat belajar, menari, mengenal budaya, hingga akhirnya berani membagikan identitasnya ke ruang digital.
Perempuan asal Bojonegoro ini menemukan caranya sendiri untuk merawat budaya sekaligus membangun mimpi sebagai kreator konten.
Valincia, sapaannya, mengaku ketertarikannya pada budaya Tionghoa tumbuh dari kebiasaan sederhana, yakni menonton drama China. Dari sana, rasa ingin tahunya berkembang. Ia mulai belajar bahasa Mandarin secara otodidak sejak pertengahan masa pandemi Covid-19.
“Sejak pertengahan Covid-19 saya belajar mandarin sendiri. Waktu itu saya merasa bahasa mandarin sekarang ini sangat penting,” ujarnya.
Ketertarikannya pada budaya tak berhenti di bahasa. Sejak kecil, ia mulai terbiasa menari di kelenteng untuk mengisi berbagai acara keagamaan. Awalnya hanya tampil membantu kegiatan ibadah, lama-kelamaan menari menjadi hobi.
Untuk urusan konten, langkah pertamanya terbilang spontan. Ide membuat vlog muncul saat ada kirab di Kelenteng Malang. Berawal iseng, namun respon yang datang membuatnya ingin terus berbagi.
“Awalnya cuma iseng waktu ada kirab di Kelenteng Malang. Tapi makin ke sini saya ingin nunjukin kegiatan kami sebagai umat minoritas, supaya orang-orang lebih tahu. Lebih ke sharing saja,” katanya.
Sejak pertengahan 2024, selepas lulus SMA Katolik Ign. Slamet Riyadi Bojonegoro, ia mulai lebih serius membuat konten. Mengisi waktu libur panjang, ia mendokumentasikan rutinitas harian, aktivitas ibadah, hingga kegiatan budaya Khonghucu. Kini, di sela kuliahnya di Surabaya, ia perlahan merintis diri sebagai content creator lifestyle dan budaya.
Baginya, membagikan vlog kegiatan keagamaan memberi kebahagiaan tersendiri. Selain menambah teman baru, juga merasa bisa membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang keberagaman.
Valincia berharap ke depan bisa semakin aktif membuat konten yang bermanfaat, seru, dan informatif tentang lifestyle serta budaya. Bagi mahasiswi 19 tahun itu, media sosial bukan sekadar tempat eksis, melainkan ruang untuk berbagi cerita, tentang identitas, tentang minoritas, dan tentang keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri. (kam/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana