TAK semua orang memiliki kemewahan bisa bercerita dengan orang lain. Perasaan bingung, takut dijustifikasi membuat kebanyakan orang mengurungkan niat bercerita. Buku dan pena menjadi opsi solusi. Layaknya dialami Alfiyah Putri Hisbulloh, mahasiswi jurusan Psikologi yang lebih memilih bercerita lewat tulisan.
Merangkai kata demi kata untuk menggambarkan perasaannya. Berbagi cerita lewat tulisan baginya bukan sekadar hobi biasa. Tapi, cara mengungkapkan apa yang dirasa. Dan, untuk lebih mengenal diri sendiri. "Sering kali setiap malam aku ada kebiasaan menulis tentang hari-hariku sendiri," ungkap Putri, sapaannya.
Menurut dia, kebiasaan itu sudah dilakukan sejak duduk di bangku SMA. Namun, saat itu hanya menulis saat sedih. Semenjak kuliah di jurusan psikologi, kata dia, lebih tahu kalau sebenarnya mengungkapkan perasaan lewat tulisan sangat penting. "Kadang kan kita kalau ada masalah gitu bingunh mau cerita ke siapa atau kadang malu buat bercerita ke teman takut enggak didengerin," ucap mahasiswi IAI Al-Fatimah Bojonegoro itu.
Atau bahkan, lanjut dia, dijustifikasi yang sebenarnya malah menambah beban. Jadi, ia lebih memilih berbagi cerita lewat tulisan. Seperti apa yang membuat marah, sedih, atau senang hari itu. "Ini cara yang aku pilih untuk mengungkapkan perasaan," ujar warga Kecamatan Balen ini. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana