BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Tekad kuat mengiringi langkah Nur Kharirin dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Beragam rintangan berhasil dilalui dengan semangat ingin menunjukkan perempuan boleh berpendidikan setinggi apapun.
Meski halangan dari faktor internal maupun eksternal kerap menghadang jalannya. Namun, tidak membuat gentar langkah kakinya menyelami dalamnya ilmu pendidikan.
‘’Aku ingin menunjukkan kepada siapapun, kalau perempuan tidak hanya melulu tentang dapur, kasur, dan sumur. Perempuan boleh jadi apapun dan boleh berpendidikan setinggi apapun,’’ ujarnya.
Lahir di sebuah desa yang menganggap bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan 22 tahun tersebut.
Bahkan, keputusannya untuk melanjutkan pendidikan S-2 dianggap sebelah mata. Tidak jarang keputusannya dianggap memberatkan orang tua karena tidak langsung menikah.
‘’Kata mereka, sekolah terlalu tinggi itu tidak penting bagi perempuan. Karena ujungnya juga akan menjadi ibu rumah tangga,’’ tutur mahasiswa S2 Ilmu Linguistik di Universitas Airlangga Surabaya tersebut.
Semua yang diucapkan oleh orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya tidak berpengaruh dengan cita-cita Ririn. Ia ingin membuat perubahan, bahwa perempuan setara dengan laki-laki perihal pendidikan.
‘’Aku tidak ingin dipandang sebagai perempuan yang setelah lulus SMA langsung menikah, punya anak, dan melayani suami. Aku punya harapan perempuan tidak hanya sampai situ saja,’’ lanjut alumni S1 Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya tersebut.
Bagi perempuan asal Desa Trate, Kecamatan Sugihwaras tersebut, perempuan boleh memiliki masa depan dan harus menjadi seorang ibu cerdas. Dengan ibu yang cerdas bisa menjadikan anak-anak berkualitas.
‘’Cantik itu relatif, tapi cantik saja tidak cukup. Ketika menjadi seorang perempuan yang hanya mengandalkan keelokan yang bisa dipandang saja,’’ pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Hakam Alghivari