RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Suasana khidmat menyelingkupi kegiatan malam tasyakuran yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro di Pendapa Malowopati, Minggu (16/8) malam. Malam kemerdekaan tersebut menjadi ruang untuk mengenang perjuangan sekaligus merefleksikan pekerjaan rumah yang masih harus dituntaskan.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengatakan, tasyakuran setiap 16 Agustus malam tidak hanya digelar di Pendapa Malowopati. Melainkan, juga berlangsung di balai desa, tingkat RT, hingga berbagai penjuru Kabupaten Bojonegoro. Selain menjadi wujud syukur, kegiatan tersebut menjadi momentum menghormati jasa para pahlawan.
Baca Juga: Wahono Tegaskan Pemkab Hadir Cari Solusi dari Desa, Medhayoh ke-9 di Desa Cengkir
"Ini sekaligus menjadi refleksi tentang apa yang sudah kita lakukan dan apa yang harus kita perjuangkan ke depan," ujarnya.
Menurut sosok nomor satu di Pemkab Bojonegoro tersebut, kemerdekaan tidak lahir dengan mudah. Ada perjuangan, pengorbanan, air mata, serta jiwa dan raga para pendahulu yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa.
Karena itu, kemerdekaan hari ini harus dimaknai sebagai kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk hidup, berkembang, dan menentukan masa depan. Pemerintah, lanjut dia, harus hadir untuk melindungi dan memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal.
Baca Juga: Testimoni Setyo Wahono, Bupati Bojonegoro: Mitra Strategis Pembangunan Daerah
"Tugas kita hari ini dalam mengisi kemerdekaan adalah dengan kerja nyata harus dimaknai sebagai perjuangan untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketidakadilan, dan berbagai bentuk kesenjangan," tegasnya.
Disamping itu, lanjut Bupati Wahono, Pemkab memiliki kewajiban harus memastikan anak-anak Bojonegoro memperoleh kesempatan mendapat pendidikan yang baik. Setiap keluarga mendapat layanan kesehatan yang layak. Masyarakat juga memiliki kesempatan bekerja dan berusaha. Termasuk pelaku UMKM, petani, pedagang, dan seluruh sektor ekonomi mendapat peluang untuk berkembang.
Di sisi lain, perkembangan zaman menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Mulai perkembangan teknologi digital, persaingan ekonomi global, hingga tuntutan masyarakat terhadap pemerintahan yang semakin terbuka dan berkualitas.
"Semangat kemerdekaan harus kita terjemahkan menjadi semangat untuk berinovasi, bekerja lebih baik, melayani lebih baik, dan membangun daerah secara berkelanjutan," jelasnya.
Dia juga mengajak, masyarakat memperkuat gotong royong dan persatuan. Perbedaan pilihan, pandangan, latar belakang, maupun kepentingan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, perbedaan tidak boleh menghilangkan persaudaraan.
Menurut Sosok asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo tersebut, berbagai persoalan seperti kemiskinan, perluasan peluang kerja, dan penguatan kemandirian ekonomi membutuhkan kolaborasi. Pembangunan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.
Baca Juga: KPM Gayatri Ingin Tukarkan Kambing, Keberatan Membeli Pakan Pabrikan
Untuk itu, Bupati menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para veteran, pejuang, pendahulu, serta seluruh masyarakat Bojonegoro yang telah memberikan pengabdian dan kontribusi bagi kemajuan daerah dan bangsa.
"Mari kita isi kemerdekaan ini dengan kerja keras, persatuan, inovasi, dan kebermanfaatan. Semoga Allah senatiasa memberikan kekuatan dan keberkahan dalam membangun Bojonegoro dan Indonesia yang semakin maju, sejahtera, adil, dan mertabat," ujarnya..
Tasyakuran HUT ke-81 RI dihadiri Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, Wakil Bupati Nurul Azizah, Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono, jajaran Forkopimda, kepala OPD, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat. Ketua MUI Bojonegoro KH Alamul Huda memimpin doa dan tahlil. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari