RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghafal letak lubang. Tapi itulah yang dilakukan warga Desa Singonegoro, Kecamatan Jiken. Mereka tak sedang belajar topografi. Mereka hanya berusaha selamat setiap kali melintasi jalan kabupaten yang lebih mirip jebakan beruntun.
Ironisnya, yang lebih dulu turun tangan bukan kontraktor proyek, melainkan pihak swasta. Sejak Senin siang (16/2) lalu, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jiken 1 bersama Forkopimcam dan warga setempat melakukan penanganan darurat di ruas jalan tersebut. Sembilan rit grosok didatangkan untuk menutup sejumlah lubang.
Kepala SPPG Jiken 1 Chendy Ilyas Nugraha mengatakan, inisiatif itu lahir dari diskusi dengan mitra Badan Gizi Nasional (BGN), pemilik SPPG Jiken 1. Dari obrolan soal pemenuhan gizi, pembicaraan merembet pada kebutuhan paling mendasar yaitu jalan yang layak dilalui.
“Setelah diskusi, kami koordinasi dengan kecamatan dan dipilih lokasi di Singonegoro. Penanganannya kolaboratif, bersama Pemdes, TNI-Polri, Forkopimcam, dan masyarakat,” ujar Chendy di sela kegiatan.
Total sekitar 1 hingga 2 kilometer ruas ditangani. Padahal, jalan itu bukan akses distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka jalankan.
“Ini bentuk kepedulian. Walaupun bukan jalur distribusi MBG,” terangnya.
Dikonfirmasi terpisah, Camat Jiken Joko Leleno mengapresiasi sinergi tersebut. Jalan di Singonegoro merupakan akses vital penghubung antarwilayah urat nadi aktivitas ekonomi dan pertanian warga.
“Ini gotong royong. Ada donasi material dari SPPG Jiken 1, lalu kita kerjakan bersama untuk menutup lubang,” katanya.
Ia tak menampik, keterbatasan APBD 2026 menjadi tantangan percepatan pembangunan infrastruktur. “Kemampuan anggaran terbatas, sementara kebutuhan banyak. Karena itu hari ini kami bergerak bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Kades Singonegoro Sarji mengungkapkan, kerusakan jalan kabupaten di wilayahnya sudah berlangsung lama. Total kerusakan mencapai kurang lebih 4 kilometer. Untuk ruas terparah ke arah Dungkraw, sekitar 2 kilometer.
“Sudah rusak cukup lama. Kalau malam atau musim hujan, lubangnya tertutup air, tidak kelihatan. Memang belum ada laporan kecelakaan serius, tapi risikonya besar,” jelasnya.
Warga selama ini terpaksa ekstra hati-hati. Mengurangi kecepatan, menghindari genangan, atau sekadar pasrah jika kendaraan oleng.
Eko Sumarno, salah satu warga menyebut kerusakan itu sudah berlangsung sekitar satu dekade.
“Total sekitar 4 kilometer rusak. Beberapa titik di Ketringan dan Tempel sudah mulai diperbaiki. Tapi Singonegoro sampai Jiworejo yang kurang lebih 2 kilometer ini belum tersentuh permanen,” ujarnya.
Ia mengapresiasi penanganan darurat dengan grosok yang dilakukan. Setidaknya, untuk sementara, risiko kerusakan kendaraan bisa ditekan.
“Kami berterima kasih sudah ada penutupan lubang sekitar 1 kilometer. Tapi tentu harapannya ada perbaikan permanen supaya lebih aman dan nyaman,” katanya. (hul/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana