RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kalangan aktivis dan masyarakat sipil menyikapi pengurangan anggaran bansos oleh pemerintah kabupaten (pemkab), mendesak pemutakhiran data tak seharusnya jadi alasan lepas tangan. Apalagi penyalurannya tidak tepat sasaran.
Setelah terjadi pengurangan anggaran bansos sekitar Rp 118 Miliar, dari 2025 Rp 107 miliar pada 2026 Rp 52 miliar.
‘’Karena ada pengurangan anggaran cukup signifikan, akan kami kawal agar tepat sasaran,’’ kata Ketua Giri Foundation Rian Adi kemarin.
Menurut dia, kemiskinan tak kunjung tuntas, butuh kolaborasi dari semua pihak, untuk mencari solusi mulai dari hulu hingga hilir.
"Ini merosot, bukan sekadar angka statistik melainkan ancaman nyata nagi ribuan perut warga di pelosok desa," imbuh Khusnun Najih, pegiat masyarakat sipil.
Menurut dia, pemutakhiran data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) yang kini dijadikan data tunggal sosial dan ekonomi nasional (DTSEN) dinilai meragukan. Dampak pemutakhiran data agar tepat sasaran, namun tetap harus kritis. "Apakah ribuan warga yang dicoret itu benar-benar sudah sejahtera atau sengaja dieliminasi demi menyesuaikan jatah uang yang menepis dari pusat," tanya Khusnun sapaannya.
Dia menegaskan, jangan sampai pemutakhiran data hanya menjadi cara halus cuci tangan dari tanggung jawab sosial. Menurutnya, anjloknya anggaran bansos memberi efek kejut bagi rakyat kecil. Dengan anggaran yang nggembos, kata dia, ribuan keluarga penerima manfaat (KPM) dipastikan akan kaget dan tercelet dari sistem.
"Di Bojonegoro, jarak antara hampir miskin dan miskin itu sangat tipis. Sedikit guncangan kebijakan seperti ini akan menjatuhkan mereka ke jurang kemiskinan lebih dalam," tandasnya.
Dia menuturkan, ini menjadi satu ironi di daerah lumbung energi. Sebagai daerah kaya minyak dan gas (migas) dengan dana bagi hasil (DBH) besar sangat tidak elok jika terlalu manut dan bergantung 100 persen pada skema pusat.
"Di saat pusat memotong anggaran, di situlah APBD Bojonegoro seharusnya hadir sebagai suffer atau bantalan. Jangan sampai sibuk membangun fisik dan semenisasi jalan, tapi lupa membangun ketahanan pangan warga sendiri," sindirnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana