Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Aktivis Lingkungan Minta Pemkab Bojonegoro Tetap Utamakan Alun-Alun sebagai Hutan Kota

Dewi Safitri • Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:15 WIB
NYAMAN: Alun-alun sebagai hutan kota sekaligus ruang terbuka hijau yang rindang sering menjadi destinasi keluarga untuk sekadar bersantai ketika sore hari.
NYAMAN: Alun-alun sebagai hutan kota sekaligus ruang terbuka hijau yang rindang sering menjadi destinasi keluarga untuk sekadar bersantai ketika sore hari.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Rencana revitalisasi Alun-Alun Bojonegoro dengan anggaran Rp 28 miliar mendapat perhatian kalangan aktivis lingkungan. Dengan harapan, agar penataan ulang ruang publik tersebut tidak mengorbankan fungsi ekologis yang selama ini melekat pada alun-alun sebagai hutan kota.

Aktivis Lingkungan Bojonegoro, Endang Riya mengatakan, dari anggaran Rp 28 miliar tersebut, semoga revitalisasi Alun-Alun Bojonegoro tidak membuang fungsi hutan kota. Tidak menebang pohon yang sudah ada.

Jika perlu, justru bisa menambah pohon-pohon varietas baru atau menyulam tambal pohon yang sudah tidak bisa tumbuh dengan baik.  “Karena standar luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang baik adalah 30 persen dari luas wilayah perkotaan, 20 persen publik, 10 persen privat. Menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,” bebernya.

Dia melanjutkan, jika Bojonegoro belum memenuhi standar, 30 persen tersebut, maka sangat disayangkan jika harus menghilangkan pohon-pohon yang sudah tumbuh sejak lama di area alun-alun. Karena butuh waktu lama untuk menanam kembali hingga bisa menjadi rimbun.

Hal ini akan mengakibatkan wilayah kota terasa lebih panas. “Seperti beberapa tahun lalu, ketika banyak pohon di sepanjang jalur jalan ditebang,” ujarnya. Menurut Riya, melihat kondisi Alun-Alun Bojonegoro saat ini. Memang diperlukan adanya revitalisasi.

Karena sudah banyak keramik trotoar yang rusak hingga resapan air kurang maksimal. Yang menyebabkan banjir atau air menggenang di beberapa lokasi taman alun-alun. Kondisi ketika air menggenang terlalu lama, juga bisa menimbulkan adanya jentik-jentik nyamuk.

Dikhawatirkan akan menjadi sarang nyamuk yang membuat demam berdarah. “Karena dalam RTH ada beberapa fungsi yang baik. Meliputi, ekologis sosial budaya, ekonomi, hingga kesehatan. RTH yang baik menciptakan kota yang sehat, nyaman, berkelanjutan, dan meningkatkan kualitas hidup yang signifikan,” jelasnya.

Sementara itu, dikonfirmasi terkait keterlibatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro dalam ketersediaan RTH pada revitalisasi alun-alun. Akankah melakukan penanaman atau penambahan pohon dalam revitalisasi tersebut. Kepala DLH Bojonegoro, Luluk Alifah belum memberikan jawaban hingga berita ini ditulis. (ewi/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Hutan Kota #lingkungan #rth #aktivis #hutan #revitalisasi #bojonegoro #alun-alun #alun-alun bojonegoro #aktivis lingkungan #Ruang Terbuka Hijau