Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Akademisi Sebut Pengolahan Sampah Bojonegoro Perlu Penanganan Serius

Dewi Safitri • Jumat, 19 Desember 2025 | 15:00 WIB
MENGANGKUT SAMPAH: Petugas kebersihan mengangkut sampah di Alun-Alun Bojonegoro untuk dibuang di TPA.
MENGANGKUT SAMPAH: Petugas kebersihan mengangkut sampah di Alun-Alun Bojonegoro untuk dibuang di TPA.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Volume sampah terus bertambah setiap tahunnya. Membutuhkan perhatian dari semua pihak atas langkah pengelolaan sampah yang tepat.

Di samping itu, kesadaran masyarakat dan stake holder terkait juga diperlukan untuk sama-sama menjaga lingkungan.

Di tengah ironi timbulan sampah yang semakin meningkat. Sejumlah desa menunjukan bahwa pengelolaan sampah yang tepat bukan hal mustahil dilakukan. Asal ada kemauan dan keseriusan dalam menjalankannya.

Kepala Desa/Kecamatan Purwosari, Umi Zumrothin mengatakan, beberapa upaya dilakukan dalam pengolahan sampah di desanya yang berhasil meraih penghargaan Desa Berseri tingkat Provinsi Jawa Timur 2025.

Di antaranya, pengolahan sampah yang difokuskan satu RT, satu bank sampah. Kemudian, memaksimalkan untuk pemilihan sampah yang dimulai dari masing-masing rumah.

Jadi, setiap rumah diupayakan mempunyai tempat pembuangan atau biopori untuk sampah organik.

‘’Selain itu, pemanfaatan sampah organik juga dilakukan untuk budidaya maggot,’’ lanjutnya.

Infografis volume sampah di Bojonegoro (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Infografis volume sampah di Bojonegoro (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Menurut Umi, dalam upaya ini memang awalnya tidak mudah. Namun, dari kesulitan yang terus diupayakan tersebut, berbuah manis.

Dia membentuk kader lingkungan dan rutin melakukan sosialisasi. Selain dilakukan oleh TP PKK, RT, RW, kader lingkungan, dan perangkat desanya. Sebagai Kades, ia mengaku turut terjun langsung dalam giat warga, sekaligus menyampaikan sosialisasi. Selain itu, bank sampah di setiap RT didorong untuk melakukan kegiatan setiap satu bulan sekali.

‘’Mau tidak mau setiap RT harus punya bank sampah. Dari warga, dibawa ke bank sampah RT. Kemudian, dijual ke pengepul,’’ terangnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Unugiri Bojonegoro Ahmad Anfasul Marom menyampaikan, permasalahan sampah bukan perkara mudah. Karena menyangkut soal mindset kesadaran warga dan stake holder terkait.

Pemerintah daerah bisa saja memulai program-program yang bersifat edukatif dengan melibatkan langsung masyarakat dan generasi muda. Seperti, sekolah sadar sampah, dengan melakukan worshop pemilahan sampah rumah tangga, sekolah, pesantren, pasar, hingga industri-industri besar. Menguatkan prinsip reduce, reuse, recycle (3R).

‘’Tapi, itu semua perlu kesadaran publik. Tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah saja. Sektor pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat juga perlu digandeng,’’ lanjutnya.

Berdasar satu data Bojonegoro, dalam dua tahun terakhir, tumpukan sampah di Bojonegoro selalu meningkat. Dari 133.639,42 ton timbulan sampah di 2023. Meningkat menjadi 134.329,37 di 2024. Kembali mengalami peningkatan timbulan volume sampah menjadi sekitar 134.641,67 ton di 2025. (ewi/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #Desa #Sampah #sampah organik #pengelolaan sampah #volume sampah #bojonegoro #Pembuangan