RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Selain menjadi sorotan terkait kebersihan dapur, menu makan bergizi gratis (MBG) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidomulyo juga dianggap tak bergizi dan monoton.
Kepala Koordinator wilayah (Korwil) SPPG Kabupaten Blora, Artika Diannita mengatakan, selain masalah limbah, juga menerima keluhan dari penerima manfaat terkait menu makanan yang monoton dan kurang bergizi.
"Menunya itu-itu saja, kadang rasanya juga kurang enak," tuturnya.
Artika juga menyoroti pelanggaran dalam sistem penyimpanan bahan makanan. Bahan kering disimpan langsung di lantai tanpa meja palet, sementara bahan basah dan beku di freezer yang tidak dikelola dengan baik.
"Ada bahan yang seharusnya dibuang, tetapi masih tersimpan. Bahkan suhu freezer belum sesuai standar," ungkapnya.
Pihak Korwil SPPG telah memberikan teguran dan instruksi tegas kepada pengelola untuk melakukan pembenahan dalam tujuh hari.
"Kami minta perbaikan total, dari penerimaan bahan baku hingga distribusi makanan. Ini menyangkut kesehatan penerima manfaat, jadi tidak bisa ditoleransi," tegas Artika.
Tak hanya itu, Artika juga telah memberi catatan serius terhadap SPPG tersebut. Dimana menu yang disajikan ke penerima manfaat selalu sama, sehingga membuat bosan penerima manfaat.
"Saya dapat aduan bahwa menunya disana (SPPG) selalu sama. Sedangkan, aturannya itu menu dijadwalkan 20+2 untuk menghindari kebosanan penerima manfaat," tuturnya.
Dia menambahkan, kasus SPPG Banjarejo menjadi peringatan keras bagi seluruh pengelola dapur di Blora, agar tidak mengabaikan standar sanitasi dan keamanan pangan.
Dia juga mengimbau Satuan Pelaksana Pengawasan Internal (SPPI) agar lebih aktif melakukan pemantauan lapangan.
"Tugas SPPI adalah mengatur, mengawasi, dan memastikan seluruh kegiatan dapur berjalan sesuai standar kebersihan, keamanan, dan mutu gizi. Laporkan bila ada area dapur atau peralatan yang tidak higienis," katanya.
Artika juga menegaskan, surat perintah dapur dari BGN. Bila ada intervensi mitra atau pemilik dapur, segera laporkan kepada pihaknya. “Jangan sampai anggaran negara yang sudah keluar kita selewengkan hanya dari permintaan mitra," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Satgas Blora, Sri Setyorini mengakui ada beberapa SPPG yang masih terbelakang kualitasnya. Dia menekankan, harus ada perubahan menu setelah adanya pengawasan.
“Kami perketat pengawasannya agar bisa dimaksimalkan pelayanannya,” jelasnya.
Perempuan yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Blora itu juga terus mengupayakan pelatihan SPPG agar menciptakan dapur yang berkualitas.
“Kami juga akan melakukan pelatihan untuk ahli gizi terkait meningkatkan kualitas menu bersama dengan dinas kesehatan setempat,” ucapnya. (hul/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana